Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Taubat Seorang Pembunuh


Taubat Seorang Pembunuh
Seorang pembunuh yang amat kejam telah menghabisi nyawa 99 orang. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal. Ia mendatangi seorang alim dan bercerita tentang masa lalunya yang kelabu itu. Iamengutarakan maksudnya untuk bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik. Aku ingin tahu; " apakah Tuhan akan mengampuniku??" ia bertanya.
Sang alim rupanya belum cukup banyak belajar. Ia menjawab, " Tentu saja kau tak akan diampuni-Nya ". Karena kesal  Ia membunuh alim itu jadi genab 100 orang yang dibunuh .

Kemudian ia bertemu orang alim lain. Ia mengatakan telah membunuh seratus orang. Aku ingin tahu,  tanyanya, apakah Tuhan akan mengampuniku jika aku bertaubat? Alim kedua ini lebih bijak dari yang pertama. Ia menjawab, " Tentu saja  kau akan diampuni. Bertaubatlah sekarang juga. Aku hanya punya satu
nasihat untukmu; jauhilah teman-temanmu yang jahat dan bergabunglah
dengan orang-orang yang saleh, karena teman yang jahat akan "
mendekatkanmu kepada dosa. Orang itu lalu bertaubat dan menyesali dosa-dosanya. Ia menangis memohon ampunan Tuhan. Kemudian ia pun menjauhi teman-temannya yang jahat dan pergi mencari perkampungan tempat orang-orang saleh tinggal. Namun ketika ia berada di perjalanan, ajalnya tiba. Malik, Malaikat Penjaga Neraka, dan Ridwan, Malaikat Penjaga Surga, sama-sama datang untuk menjemput ruhnya. Malik berkata bahwa orang itu adalah pendosa  besar dan tempatnya di neraka jahanam.

Tetapi Ridwan juga mengklaim bahwa orang itu layak masuk surga. Malaikat Ridwan berkata, Orang ini  bertaubat dan telah memutuskan untuk menjadi orang baik. Ia sedang menempuh perjalanan ke kampung
tempat tinggal orang-orang saleh ketika ajalnya tiba. Kedua malaikat itu pun berdebat. Jibril datang untuk menyelesaikan masalah. Setelah mendengar pernyataan dari kedua malaikat, Jibril memutuskan, Ukur jaraknya. Jika tanah tempat mayatnya berada lebih dekat kepada orang-orang saleh, maka ia masuk surga; namun jika letak mayatnya lebih dekat kepada orang-orang jahat, ia harus masuk neraka.

Karena bekas pembunuh itu baru saja meninggalkan tempat orangjahat, ia masih terletak dekat sekali dengan  mereka. Tetapi karena ia bertaubat dengan amat tulus,  Allah memindahkan tubuhnya dari
tempat ia meninggal ke dekat perkampungan orang saleh. Dan hamba yang bertaubat itu pun diserahkan ke dekapan malaikat penjaga surga.
Allah berfirman , Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, Aku akan mendekatkan diri kepadanya satu siku. Apabila dia kembali kepada-Ku sambil berjalan, Aku akan menyambutnya sambil
berlari
Moga kisah islami ini manfaat . amin

Pesantren atau Sekolah ?

Pak Badri dan badru adalah sahabat lama dan bertetangga dekat
di usia berkepala emapat mereka sudah mempunya anak yang 
yang mau melanjutan studi setelah SD , dimana pak badri orangnya religius
dia berinisiatif ingin melanjutkan pendidikan anaknya di pesanteren salafi
di Jawa Barat karna dengan Salafi dia maerasa anaknya ini akan dalam ilmu
agama terutama di bidang teologi dan syari'ah , sebab di pesanteren memang
saat belajar selalu disuguhi ilmu agama yang dalam untuk bekal menghadapi
finah agama...
Berbeda dengan pak Badru minatnya ke agama biasa-biasa saja , sehingga
berpandangan dengan sekolah umum dan pandidikan yang punya legalitas
formal yang akan bisa sukses menjuarai dunia , mamang opimini masyarakat
mayoritasnya seperti ini sekarang , di mana-mana butuh izazah untuk mendaftar kerja
ada izazah dan pulus lulus skil itu nomor terakhir tapi gak semuanya juga sih..

 Ujian Nasional telah di ambang pitu , oleh sebab itu pak Badri dan Pak badru
berbincang-bincang tentang lanjutan anaknya masing-masing ,
pak Badru memulai omongan , " si Musthofa anak mu mau disekalohin di mana  ? "
" ke pesantren salafi  " jawab pak badrindengan bangga
" lo loh emang pesanteren salafi itu ada izazahnya apa ? " lanjut pak badru ,
" ndak ada " di balas pak Badri
" ngapain lo sekolahin ke pesanteren salafi gak ada masa depan , sebab gak ada izazahnya "
tukas pak Badru meremehkan pilihan pak Badri
dangan tangkas disambit pak badri " lo punya izazah S 1 kan ? "
 " iya " jawab pak badri
" hidup lo gimana  ? " 
pak badru terdiam malu ( sebab merasa hidupnya susah juga karna dizaman sekarangkalau hanya mengandalkan izazahtanpa kenalan dan uang sulit juga jadi PNS )
lanjut pak Badri
" sama kan dengan gue sama-sama mencangkul disawah
dan sama-sama hidup sederha , lo gak ada bedanya dengan gue yang gak punya izaza ,
status dan kekayaan itu adalah anugrah Tuhan , tidak setiap yang punya ilmu dan izah hidupnya mapan dan sukses dan yang gak punya izazah melarat-marat . semua sudah diatur oleh  Allah dan kita disuruh berusaha saja , aku meliat hidup ustaz labih damai dan langka terdengar kabar ustaz koruptor  kecuali oknum , tapi yang punya gelar dan titel tinggi banyak jangankan yang karuf para pejabat kita buat video porno lagi , itu lebih parah mau kamu bimbing anak mu seperti itu ? " pak badru berpidato ,
( Pak Badru lagi-lagi ndak berkutik .)
Pak Badru melanjutkan omongan " gini sobat hidup harus bijak jangan hanya memandang dunia yang akan hancur seketika dengan azab dan ujian , kita harus memilih ahirat dan tanpa melepas dunia , apa sih susuahnya kalau kamu ragu hidup tanpa izazah , pesanterenkan anak mu si Andi bersama anak ku sambi sekolah , tuntaskan . agama kamu dapat yang banyak izazah kamu punya juga " selesai omongan pak Badru
...untuk cerita selanjutnya sahabat semua yang lanjutkan ..hehehhePesantren atau Sekolah ?
moga cerita dari kisa-kisa isalami ada manafaatnya ..maaf kalo bahasa dan alurnya kurang ngepas karna saya juga lagi dalam belajar untuk mengungkapkan lewat tulisan.
satu pesan yang ingin penulis sampaikan jangan ragu terhadap agama , memilih pesanteren bukan neraka dunia dan memilih sekolah bukan sorga dunia semua adalah proses pengendalian potensi yang ada..

Sejarah Singkat Marga Lubis

Silsilah Marga lubis dari Mandailing Natal
sekilas tentang marga lubis yang berada di mandailing - medan sumatra utara
Dari dulu  sampai sekarang masyarakat Mandailing mempercayai bahawa Namora Pande Bosi adalah nenek moyang orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.
Menurut legendanya, Namora Pande Bosi (Daeng Mela) berasal dari Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu tempat yang bernama Sigalangan Mandailing Natal (Pemekaran dari Kab. Tapanuli Selatan). (Dalam tarombo marga Lubis yang disusun oleh Raja Junjungan pada tahun 1897, ada juga tercatat bahwa nama isteri Namora Pande Bosi ialah Boru Dalimunte Naparila, artinya puteri Dalimnte yang pemalu). Daeng Mela yang kemudian digelari Na Mora Pande Bosi adalah seorang pahlawan.

Pada waktu Malaka jatuh ke tangan Portugis, Daeng Mela mundur, dan ingin kembali ke negrinya Bugis. Namun dia harus menempuh jalan darat demi keselamatan dirinya sendiri. Dia memulai perjalanan dari Labuhan Ruku dan sampai di Negeri Baru, yang sama ini terkenal sebagai pelabuhan besar.
Sejarah Singkat Marga Lubis
Di sana Daeng Mela melapor kepada Raja Hatongga, dan menceritakan kepandaiannya sebagai pandai besi, sekaligus mendemonstrasikan bagaimana cara membuat cangkul, kampak, bajak, parang, tombak dan macam-macam lagi. Caranya bekerja bukanlah seperti orang biasa, besi yang sudah dibakar bisa dibengkokkan dan ditipiskan tanpa alat, cukup dengan menggunakan tangannya

Raja Hatongga sangat heran, dan takjub. Akhirnya Daeng Mela sangat disegani di kampung itu, sampai raja merestui perkawinannya dengan adik perempuan Raja, yang bernama Lenggana. Sesuai dengan adat Tapanuli Selatan, maka Daeng Mela diberi marga yaitu Lubis. Daeng Mela kini berganti nama menjadi Na Mora Pande Bosi Lubis. Sebagai maharnya, Na Mora Pande Bosi Lubis hanya memberi tiga helai kain tenun petani. Demikianlah kedua insan ini membentuk keluarga di Lobu Hatongga dengan sebidang tanah, dan perumahan yang diberikan raja Mereka cukup berbahagia setelah lahir putra kembar, yaitu Sultan Bugis, dan Sultan Berayun.Sejarah Singkat Marga Lubis

Suatu ketika Na Mora Pande Bosi Lubis pergi berburu ke tempat yang lebih jauh dari sebelumnya, di Hamaya Tonggi yang terkenal angker. Sampai enam kali dia menyumpit burung, kena dan jatuh ke tanah, namun tak pernah jumpa. Begitu pula pada penyumpit yang ke tujuh kali membuat dia kesal dan marah. Tiba-tiba muncullah seorang gadis cantik terjadilah dialog. Na Mora Pande Bosi Lubis begitu terpesona melihat gadis itu, akhirnya dia mengikuti gadis tadi sampai ke tempat tinggalnya, dan keduanya menjadi suami istri.
Sejarah Singkat Marga Lubis
Kerajaan Hatongga menjadi heboh, raja memerintahkan semua orang untuk mencari Na Mora Pande Bosi Lubis. Terakhir gong sakti dipukul (dibunyikan) Na Mora Pande Besi Lubis sadar, dan dia kembali pulang menemui istrinya dengan membawa keris tidak bersarung lagi.

Di negeri bunian istri kedua. Na Mora Pande Bosi Lubis melahirkan anak kembar diberi diberi nama Si Langkitang dan Si Baetang. Setelah besar, kedua anak ini pergi mencari ayahnya sesuai dengan petunjuk ibunya, dan ternyata impian mereka terkabul. Keluarga Na Mora Pande Bosi menerima kedua anak itu sebagai anggota keluarga, sama seperti anaknya kandung.

Suatu ketika terjadi perkelahian antara Sultan Bugis dengan Si Langkitang, gara-gara berebut putri paman, yang akhimya dimenangkan oleh Si Langkitang. Karena mereka saling berkelahi, maka sang ibu membela anak kandungnya, selia menyuruh kedua anak itu pergi. Kedua anak itu pergi, dan mereka sampai di Singengu.Sejarah Singkat Marga Lubis

Singengu adalah daerah pegunungan yang tinggi dari apabila menatap dari puncaknya, masih tampak Lobu Hatongga. Di sana dengan suara yang keras si Langkitang bersumpah agar keluarga Na Mora Pande Bosi Lubis di Lobu Hatongga akan punah. Semua keturunan Si Langkitang dan Si Baitang yang menyebar di seluruh tanah Mandailing dan di tempat-tempat lain dikenali sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Sepetti inilah sekilas sejarah dan merupakan silsilah marga lubis mandailing

Keutamaan Memuliakan Orang yang Lanjut Usia

Kisah Memuliakan Lansia
Ali bin Abi Thalib sedang berjalan  tergesa-gesa menuju masjid.Ia tak ingin melewatkan sholat shubuh hari itu dimana Nabi SAW sendiri yang menjadi imannya. Ditengah jalan Ali terpaksa memperlambat langkahnya. Di  depannya jalan seorang laki-laki-laki-laki tua tertatih-tatih. Ali tidak mau mendahului lelaki tua itu  karenarasa hormatnya. Walhasil Ali-pun menjadi terlambat tiba dimasjid. Tiba di masjid, ternyata lelaki
tua itu tidak masuk kedalamnya. Ia terus saja berjalan tanpa menghiraukan bahwa ia sedang berada didepan sebuah masjid pada saat dimana waktu sholat shubuh sedang tiba. ” Barangkali lelaki tua itu adalah seorang yang kafir, atau yang pasti ia bukanlah orang Islam”. Begitu pikir saidina Ali dalam hatinya. Sewaktu  saidiana Ali masuk kedalam masjid dilihatnya Nabi SAW sedang ruku`. Ini berarti, bahwa masih tersedia waktu bagi saidina Ali untuk sholat dengan diimami Nabi SAW sebagaimana yang diniatkan sebelumnya.

Usai sholat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW. ” Ada gerangan apa ya Rasulullah SAW, sehingga engkau lebih memperlama masa ruku` waktu sholat tadi ?.Padahal, sebelumnya hal yang seperti ini
belum pernah engkau lakukan ?” Mendengar pertanyaan para sahabat itu, Nabi SAW segera menjawab :
” Saat ruku tadi, yaitu usai mengucapkan Subhana Rabbiyal `Adzimi, aku bermaksud segera mengangkat kepalaku. Tetapi, tiba-tiba pada saat yang sama, Jibril datang.  Ia menggelar sayapnya dipunggungku
sehingga membuat aku terus saja ruku`. Jibril membuat demikian lama sekali, selama yang kalian rasakan. Baru setelah Jibril mengangkat sayapnya, aku dapat berdiri mengangkat kepalaku “. ” Mengapa bisa terjadi begitu, ya Rasulullah SAW ?” seorang diantara sahabat terus bertanya. ” Aku tak sempat menanyakan hal itu”. Ternyata Jibril kembali menemui Nabi SAW. Ia memberikan penjelasan mengenai sebab ruku`
menjadi panjang saat sholat shubuh itu. “Wahai Muhammad, tadi itu, saidina Ali  sedang tergesa-gesa untuk bisa mengejar sholat berjama`ah. Tapi ditengah perjalanan ia bertemu dengan seorang lelaki tua Nasrani yangmembuat jalannya menjadi terlambat sampai kesini. saidina Ali tidak  tahu kalau orang itu adalah Nasrani, dan ia biarkan orang tua itu untuk  tetap terus berjalan didepannya. saidina Ali tidak mau mendahuluinya. Allah SWT kemudian menyuruhku supaya engkau tetap ruku` sehingga memungkinkan saidina Ali untuk dapat menyusul sholat shubuh berjama`ah. Perintah Allah SWT seperti itu padakubukan hal yang mengherankan bagiku, yang mengherankan adalah perintah Allah SWT kepada Mikail agar ia menahan perputaran matahari dengan sayapnya. Ini tentunya karena  perbuatan Ali tadi “. demikian penjelasan Jibril. Setelah memperoleh keterangan dari  malaikat Jibril, Nabi SAW pun kemudian bersabda,” Inilah derajat orang yang memuliakan orangtua (lansia), meskipun lansia itu adalah Nasrani “.
semoga kita bisa menghargai nenek-nenek dan kekek-kakek yang tua karena menghargai orang yang lebih tua adalah merupakn sifat terpuji dan juga kita semua juga akan tua takkan selamanya muda...

sekian kisah islam yang di post oleh ... kisah kisah

Andaikan Mama mu , Itu Mama ku

ANDAIKAN MAMAMU, ITU MAMAKU..........

Jihan dan Ningrum adalah gadis yang berusia sekitar 21 tahun. Mereka bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Mereka bekerja dari pagi pukul delapan hingga pukul tujuh malam. Mereka menempati sebuah rumah kost dan kamar yang sama. Akan tetapi Ningrum lebih dulu bekerja di kafe itu, 6 bulan yang lalu. Sementara Jihan baru bekerja selama 2 bulan. Ningrum lebih bersikap dewasa dan terkesan terlalu banyak diam. Sedangkan Jihan terkadang masih tampak sikap kemanja-manjaan. Namun, karena usia yang sebaya, mereka mudah untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri. Walau selama ini mereka hanya memperbincangkan hal-hal yang biasa saja.

Jam dinding di kamar kost menunjukkan pukul 20.30 wib. Malam itu hujan gerimis. Seperti biasa Ningrum akan segera tidur. Ketika hendak menarik selimut ia melihat Jihan masih berdiri di depan jendela, menatap gerimis. Sesekali mondar-mandir. Wajahnya jelas menggambarkan sesuatu. Ya. Suntuk.
Ningrum : “Hai Jihan ! Ada apa denganmu…? Tumben tuh mata masih melek. Mondar-mandir lagi…

Jihan : …….(Diam hanya menata Ningrum)

Ningrum : “ Malah bengong….., ada apa sih ?”

Jihan : “Aku bingung…….” (menata keluar jendela)

Ningrum : “Tentang apa..? Cowok…?”

Jihan : ………(menggeleng dan bersandar di dinding kamar)

Ningrum : “Lantas ? “

Jihan : “Mama……”

Ningrum : “ O……….”

Jihan : “ Mama menyuruhku pulang, Mama sakit.”

Ningrum : “ La kenapa bingung…? Ijin pulang donk….”

Jihan : “ Itu soal gampang. “


Ningrum : “ Susahnya….? “


Jihan : “ Aku malu pada Mama dan keluargaku…”
Ningrum : “ Mengapa…..? “
Jihan : (menatap Ningrum ) “ Aku yang membuat Mama sakit. Dua bulan ini aku kabur dari rumah. Aku tak suka Mama melarangku pacaran dengan Roy. Aku berantam sama Mama, sampai akhirnya aku di sini. Aku tak suka Mama melarangku pacaran dengan Roy. “


Ningrum : “ Siapa Roy…..? “
Jihan : “ Teman kuliahku. Dia tampan. Wah banyak sekali cewek kampus yang mengejarnya. Aku juga suka dia. Ternyata dia juga suka tuh denganku. Tapi…..(diam sejenak) “
Ningrum : “ Tapi apa ? “
Jihan : “ Dia pecandu berat. Terkadang suka ugal-ugalan. Mama tak suka aku bergaul dengan Roy, apalagi sampe pacaran. Mama takut aku ikut terjerumus bersamanya lebih dalam lagi. Entah mengapa aku tak suka Mama melarangku. Selama ini Roy baik padaku. Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus selalu diatur !. Kedua abangku boleh memilih teman yang mereka suka……mengapa aku tidak? “
Ningrum : “ Kau anak perempuan satu-satunya ? “
Jihan : “ Iya, bahkan anak bungsu “
Ningrum : “ Bagaimana teman abang-abangmu ? “
Jihan : “ Sepertinya mereka memang baik “
Ningrum : “ Ada yang seperti Roy…? “
Jihan : “ Mereka kan cewek….”
Ningrum : “ Tingkahnya maksudku….”
Jihan : ………(menggeleng)
Ningrum : “ Pantas Mamamu melarangmu. Itu karena sayang sama anaknya. “
Jihan : “ Kalau sayang mengapa halangi kebahagiaan dan kesenanganku ?! “
Ningrum : “ Justru Mamamu menunjukkan jalan bahagia untukmu ! “
Jihan : “ Ah kau sok tahu ! “
Ningrum : “ Kurasa aku tahu ! “
Jihan : “ Karena Mamamu juga sepert itu ? Dan kau menurutinya ? Agar dianggap berbakti padanya ? lalu dapat dibanggakan ? “
Ningrum : “ Tak seperti yang kau sangka ……(menunduk) Aku benci Mamaku…”
Jihan : “ Kenapa ? Karena kau selalu diatur dan dilarang kan ? Hingga kau berantam dan kabur ? “ (tersenyum sinis )
Ningrum : “ Bukan ! Karena Mamaku, bukan Mamamu…..( menatap Jihan )
seperti Mamamu. Mama adalah orang yang menghancurkan hidupku. Dia orang yang jahat

Jihan : “ Maksudmu…? (berjalan mendekati Ningrum dan duduk di penggir ranjang ) “
Ningrum : “ Ya. Mamaku bukan Mama yang peduli terhadap masa depan anaknya, membuat masa depanku berantakan ! “
Jihan : “ Ningrum……”
Ningrum : “ Ya. Karena dia kesucianku telah hilang….”
Jihan : “ Bagaimana bisa terjadi ? “
Ningrum : “ Mama selalu gonta ganti pria setelah bercerai dari ayahku sepuluh tahun yang lalu. Aku anak tunggal dari pernikahan mereka. Entah apa yang membuat mereka bercerai, sampai sekarang aku tak tahu pasti. Aku ikut dengan Mama. Setelah bercerai Mama menikah untuk yang kedua kali. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama tiga tahun. Pernikahan mereka juga kandas, papa tiriku minggat. Kau tahu penyebabnya ? (menatap Jihan ). Karena Mama ketahuan berselingkuh dengan laki-laki lain. Setelah itu Mama menikah dengan laki-laki selingkuhannya. Sebenarnya aku malu punya Mama seperti dia, tapi aku berusaha menghormatinya karena dia orang yang telah melahirkanku (diam sejenak menghela nafas…).


Ningrum : “ Tapi suatu malam, hujan deras sekali. Aku tidur di kamar Mama karena Mama sedang keluar. Tengah malam…..aku tersentak kaget. Aku merasa ada tangan yang berusaha membuka bajuku. Kau tahu Jihan siapa itu……? “
Jihan : …………..(menggeleng )
Ningrum : “ Itu Mama dan suaminya……..”
Jihan : (dengan wajah yang begitu kaget ) “ Apa….?? “
Ningrum : “ Bukan hanya malam itu Jihan, tapi malam-malam berikutnya. Mereka tak merasa iba meski aku menangis dan meronta. Mereka menjadikan aku budak nafsu mereka. Aku pernah memohon pada Mama agar membujuk suaminya untuk tidak menikmati tubuhku….
Jihan : “ Dia kabulkan….? “
Ningrum : ( dengan tatapan kosong dan tersenyum sinis, getir ) “Jangankan dikabulkan….didengarkan pun tidak. Dia bilang…’nikmati saja….nanti juga terbiasa…’. Sakit sekali hati ini. Sampai suatu ketika aku hami. Aku kira Mama akan sadar dan menghentikan kejahatannya. Tetapi sebaliknya, mereka menyuruhku menggugurkan kandungan. Bayangkan Jihan..! Mama macam apa dia…? Pantaskah aku masih menaruh hormat dan memanggilnya Mama..? “
Jihan : “ Mengapa kau tak kabur saja…? “
Ningrum : “ Aku pernah mencoba tapi gagal. Mama selalu mengancam akan membunuhku jika aku berani kabur. Setelah aku pulih dari aborsi…Mama dan suaminya mulai membawaku ke diskotik-diskotik. Mereka memaksaku minum alcohol sampai akhirnya ke tempat-tempat pelacuran. Mereka menawarkanku pada laki-laki hidung belang. Ketika itu nasibku tak ubahnya seperti jajanan ringan yang dijajakan pemiliknya di mana saja. Sampai suatu saat ketika aku sudah tak tahan, aku kabur dari kamar sebuah hotel. Ketika laki-laki buaya yang bersamaku sedang berada di kamar mandi”


Jihan : “ Mengapa tak sejak dulu…? “
Ningrum : “ Karena selama itu mereka yang datang ke rumah Mama. Rumahku laksana tempat persinggahan manusia-manusia budak nafsu. Mama seolah germoku sendiri.”
Jihan : “ Kemana kau kabur…?”
Ningrum : “ Ke tempat Tanteku , setelah selama seminggu aku menggelandang di jalanan. Aku adukan semua perbuatan Mama sampai akhirnya mereka masuk penjara tiga tahun lalu. Selama lima tahun hidupku sudah berantakan, hancur ! Apa kau kira segitu hancurnya hidupmu ketika Mamamu melarang kau pacaran dengan Roy karena takut kau terjerumus ke lembah hitam ? Tidak kan..?? “
Jihan : …………(tertunduk menatap lantai kamar lalu kembali menoleh ke arah Ningrum ) “ Cerita benarkah barusan…..? “
Ningrum : “ Kau lihat ada kebohongan di wajahku ? “
Jihan : “ Mengapa kau terlihat biasa saja….maksudku kau tampak tenang seolah tak ada cerita kelam itu….”
Ningrum : “ Lalu aku harus apa….? Meratapi hidup……? Air mataku seraya kering bertahun-tahun memelas dan memohon kebebasan dari mereka. Atau aku harus dendam ? membunuhnya ? Aku tak ingin sama dengan mereka. Aku masih punya impian hidup lebih baik lagi. Walau aku tahu sebagai wanita aku ini sudah tak berharga, seperti sampah. Tapi itu semua bukan aku yang minta. Kuyakin Tuhan tahu itu. Aku juga jarang berhubungan dengan dunia laki-laki setelah itu. Apalagi merasakan pacaran sepertimu. Aku sadar aku terlalu kotor dan tak mungkin ada yang mau padaku. Tapi bukan berarti hidupku harus berakhir. Semangat dan dukungan dari keluarga tanteku yang membuatku bertahan. Sampai akhirnya aku di sini, mencari kerja dari rekan tante. Ya. Mungkin ini hidupku yang baru. Sampai akhirnya juga aku berjumpa denganmu. (diam sejenak…..) sebenarnya aku tak ingin cerita ini padamu. Aku tak ingin orang lain tahu masa laluku. Tapi ntah mengapa ketika kau bercerita tantang Mamamu dan masalahmu…..aku seolah tepancing. Pulanglah Jihan………(memegang kedua pundak Jihan ) Jangan kau sakiti hati Mamamu. Andai, Mamamu itu Mamaku…….aku akan bersyukur. Aku akan berbakti padanya. Aku akan menyenangkan hatinya, karena dia berusaha memberi yang terbaik untuk putrinya. Sayang…………., justru itu yang tak kuperoleh dari Mamaku. “


Jihan : “ Kau ingin jadi Ibu, Ning…? “
Ningrum : “ Tentu Jihan. Kurasa tak ada wanita yang tak ingin menjadi seorang Ibu termasuk kau. Aku selalu berdoa semoga suatu saat ada seorang laki-laki yang dapat menerimaku apa adanya dan masa laluku yang kelam itu. Aku juga ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak-anakku nanti. Lupakanlah sangketa dengan Mamamu Jihan. Percayalah….dia pasti sangat menyayangimu. Kalau tidak, tak mungkin ia memintamu pulang. Lagi pula sayang kuliahmu…
Jihan : “ Ya Ningrum…..aku juga sangat menyayangi Mamaku. Besok aku akan ijin untuk pulang …

Meraka akhirnya berpelukan dan bergegas untuk tidur. Esok harinya Jihan mendapat ijin untuk cuti dua hari. Ningrum tak dapat mengantarnya ke terminal karena kafe padat pelanggan. Di parkiran kafe…
Ningrum : “ Hati-hati di jalan Han….. Salam buat Mama dan keluargamu .” (memeluk Jihan )
Jihan : “ Kau juga. Aku pasti akan memberi kabar nanti.”
Ningrum : “ Ya. Aku tunggu. “

Jihan bergegas ke jalan raya sebelumnya melambaikan tangan pada Ningrum yang menatap ke pergiannya di parkiran.
Dua minggu kemudian. Handphone Ningrum berdering….., Jihan memanggil.

Ningrum : “ Hai Jihan, apa kabar ? “
Jihan : (di sebrang….) “ Ya aku baik, kau juga kan ?”
Ningrum : “ Ya. Bagaimana Mamamu….?”
Jihan : “ Mama keadaannya semakin membaik. Maafkan aku baru memberimu kabar Ning.”
Ningrum : “ Ah tak apa. Kapan kau kembali..? ijinnya dua hari….kabarnya dua minggu….”
Jihan ; “ Ehm….Aku tak kembali Ning. Mama memintaku melanjutkan kuliah. “
Ningrum : “O…..”
Jihan : “ Tapi tiga hari lagi aku akan datang mengambil pakaianku, dan menyalammu “
Ningrum : “ Ya. Aku tunggu. Sudah ya banyak tamu datang……(melirik kea rah pelanggan yang baru datang…)”
Jihan : “ Ok. Sampai nanti “ (klik, Hp terputus )

Ningrum menatap Hp di tangannya. Entah mengapa raut wajahnya berubah. Sedih. Ya. Rasanya ia akan kahilangan teman lagi. Dan…..sepertinya rasa itu ada, iri.

di tulis oleh : Sweet Smile / Ika
 

Popular Posts

Cloud