Tampilkan postingan dengan label kisah sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sejati. Tampilkan semua postingan

Tips Membuat Suami Agar Selalu setia

Rumah tangga sudah kita tahu bahwa tidak selamanya kebahagiaan akan selalu ada. Karena godaan dan cobaan pasti akan selalu ada menemani setiap langkah. Dan salah satunya adalah perselingkuhan. Dan perselingkuhan itu sendiri bisa di lakukan oleh suami .
Sebenarnya ada juga istri yang selingkuh, namun sebagian besar perselingkuhan di lakukan oleh pihak suami karena lebih punya waktu di luar rumah. Jadi jika anda mempunyai suami yang kerja di luar rumah, anda perlu hati-hati dan juga waspada. Selain itu anda perlu melakukan hal-hal yang bisa membuat suami tetap setia. Untuk lebih jelasnya. Berikut cara membuat suami anda tetap setia meskipun dia bekerja di luar rumah.
Tips Membuat Suami Agar tetap setia
  • Jadilah istri Selalu tampil mempesona
Selalu tampil mempesona merupakan salah satu cara agar suami tetap setia. Untuk menjadi seperti itu, anda tidak harus tampil seperti artis-artis atau bintang sinetron. Karena selama anda tampil menarik setiap saat itu sudah bisa di bilang cukup. Dan yang anda perlukan untuk menjadi seperti itu juga tidak sulit. Anda hanya perlu menjaga kebersihan, bertutur kata yang baik, murah senyum, dan kalau bisa sedikit berdandan. Dan selain itu usahakan anda terhindar dari masalah kulit, tubuh, dan juga wajah

  • Berikan pelayanan kepad suami dengan baik
Untuk masalah seperti ini ada dua macam, yang pertama pelayanan di ranjang. Ketika melayani suami di ranjang, usahakan anda tidak berdiam diri atau pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suami. Jadi ada baiknya anda sedikit aktif tapi jangan terlalu agresif. Karena istri yang terlalu agresif, justru membuat suami menjadi tidak suka. Dan untuk yang kedua adalah pelayanan pada aktifitas sehari-hari. Dalam hal ini usahakan anda selalu memberikan pelayanan yang terbaik. Misalnya saja ketika makanan sudah siap, tawari dia dengan senyuman manis yang menggoda. Sehingga dengan begitu dia akan merasa senang dan bangga mempunyai istri seperti anda.

Tips membuat suami tetap setia

cara membuat suami tetap setia

  • Mendidik anak dengan baik
Jika anda sudah punya anak, sebaiknya bimbing anak anda sebaik mungkin dan jangan biarkan anak anda menjadi anak yang nakal. Dalam hal ini memang sepertinya tidak ada hubungannya. Tapi jika di pikir lagi, Anak sangat berpengaruh pada kesetiaan suami. Misalnya saja ketika di luar dia punya kesempatan untuk bermain-main dengan wanita lain. Jika dia teringat anaknya yang baik dan penurut, ada kemungkinan dia tidak jadi melakukan perbuatan buruk tersebut. Tapi jika anaknya bandel dan juga pembangkang, sudah pasti dia tidak akan peduli lagi.

Tips manjdikan Suami setia

Tips Membuat Suami Agar Selalu setia

  • Tidak Membiasakan menuntut kepada suami
Jika ingin suami anda tetap setia, sebaiknya jangan suka menuntut yang aneh-aneh terutama tentang dirinya. Jadi apapun kekurangannya sebaiknya terima saja apa adanya.

  • Usahakan tidak cemberut
Ketika sedang tidak enak hati atau karena rundingan yang tidak ketemu jalan tengahnya, sebaiknya jangan pernah sekalipun memasang muka cemberut di depan suami. Karena jika itu terjadi, suami akan merasa tidak enak hati tapi tidak bisa marah karena tidak ada alasannya. Jadi apapun yang terjadi sebaiknya berusahalah bersikap seperti biasa seolah tidak ada apa-apa.

  • Fokus terhadapnya saat sakit
Jika suami sedang sakit, ini merupakan kesempatan paling bagus untuk membuatnya semakin mencintai anda. Jadi jika suami sedang sakit berikan semua waktu yang anda punya untuk merawatnya. Kalaupun ada kegiatan lain yang harus di lakukan, sebaiknya lakukan dengan cepat dan usahakan segera kembali untuk melayani suami.

  • Rajin beribadah
Siapapun itu jika taat pada aturan agama maka meskipun tidak terawasi oleh orang yang membahayakan sangat mungkin jika orang itu tidak berani berbuat salah. Begitu juga dengan suami anda. Jika dalam keluarga ada ketaatan dalam beribadah, maka bisa jadi suami anda menjadi takut dengan peraturan agama dan dia tidak akan berani berbuat yang merusak hubungan .

sekian cara membuat suami betah setia pada anda semoga manfaat dan bila tips diatas belum cuku silahkan cari informasi dari tetangga atau sahabat anda .

Sekilas Tentang Sejarah Kapal Selam

Kapal Selam-Banyak ahli dan cendekiawan pada abad ke-16 sudah mulai mencari bentuk dan sistem untuk membuat kendaraan bawah air ini. Ilhamnya dimulai dari perahu atau kapal biasa. Kaitannya jelas, kapal atau perahu meluncur di atas air. Beberapa bagiannya berada di dalam air.
Lalu timbul pemikiran: "Bagaimana kalau semua bagian kapal dapat berada di dalam air, tapi tetap dapat meluncur dan dikendarai seperti kapal biasa ?!"


Lalu pemikiran dengan bantuan ilmu pengetahuan untuk membuat kapal selam muncul pada tahun 1578. William Bourne, seorang ahli matematika, merancang sebuah kapal dilapisi oleh kulit yang kedap air. Kapal ini dimaksudkan dapat didayung di dalam air, karena waktu itu belum dikenal adanya mesin.

Tapi kapal ini gagal diwujudkan. Gagasan serupa diteruskan oleh orang Jerman pada tahun 1620. Pembuatnya bernama Cornelis Drebbel, membuat kapal yang berhasil menyelam sedalam 360 sampai 450 centimeter, didayung oleh 12 orang.

Kapal selam sederhana tanpa dayung serta peralatan yang lebih maju dimulai oleh seorang anak sekolahan d Yale (Amerika Serikat), David Bushnell. Kapal selam ciptaannya berbentuk seperti telur, terbuat dari kayu.

Kapal SelamPerlengkapan utamanya adalah pipa pernapasan ke atas permukaan air, baling-baling yang diputar dengan tenaga tangan, tangki yang mengelola daya apung dan tenggelam kapal selam ini (bila ingin menyelam, beberapa tangki diisi air lewat katup yang dapat diatur dengan kaki dan bila timbul ke atas air, air ini dipompa keluar dengan tangan), kompas dan sebuah pemberat agar kedudukan kapal tetap. Karena kapal ini kemudian dipergunakan untuk perang, maka kapal ini juga diperlengkapi dengan torpedo. Padahal ini baru tahun 1775 !?

Kapal selam dengan penggerak bukan manusia dimulai oleh Robert Fulton. Ia menggunakan mesin uap untuk menjalankan kapalnya. Dan untuk memudahkan kapal meluncur maju, kapal ini dibuat dengan bentuk cerutu. Kapal cerutu ini membawa 2 awak kapal dan sudah mampu menyelam beberapa jam.

Kapal selam yang lebih maju lagi dipunyai Angkatan Laut AS pada tahun 1900. Penciptanya bernama John PG Holland dan kapalnya dinamakan Holland. Panjang kapal 1.590 centimeter, dijalankan dengan tenaga mesin bensin dan listrik. Karena merupakan bagian peralatan militer, kapal ini dilengkapi dengan persenjataan, di antaranya torpedo, dengan lontaran tekanan udara.

Tapi dalam pemakaiannya, bahan bakar bensin sering membahayakan kapal itu sendiri. Kemudian untuk mengatasi masalah ini, dibuat mesin dengan bahan bakar yang lebih aman, yaitu solar, dengan mesin diesel. Ini terjadi pada tahun 1905 dan pelopornya adalah Inggris. Kapal selam bertenaga diesel ini kemudian menjadi bakuan kapal-kapal selam berikutnya. Sekarang ini ada kapal selam yang berkekuatan sampai 1.000-1.600 tenaga kuda pada dieselnya.

Setelah Perang ke-2 Dunia (P2D), peralatan dan kemampuan kapal selam maju lebih jauh lagi. Dalam perang itu -misalnya- kapal selam AL-AS juga menggunakan mesin diesel jenis Fleet. Kapal selam mereka panjangnya 90 meter, dengan awak kapal 85 orang, berkecepatan 20 knot di atas air dan 10 knot di dalam air, 10 buah laras torpedo terpasang di bagian depan dan belakang kapal, dengan kemampuan melepaskan 24 buah torpedo setiap laras. Setiap torpedo berisi sekitar 250 kiligram bahan peledak. Kecepatan kapal selam ini sesungguhnya bisa mencapai 45 knot, tapi dengan alasan keamanan kapal itu sendiri, kecepatan yang dipergunakan hanya 20 knot. Dengan kecepatan ini torpedo dapat dilontarkan dengan kecepatan 29 knot.

AS malah semakin menunjukkan kekuatan pertahanan laut yang semakin kokoh. Pada tahun 1954, AL-AS membuat sejarah baru, dengan meluncurkan kapal selam pertama bertenaga nuklir, bernama Nautilus. Pada tahun itu pula semua puncak kemampuan dan kecepatan kapal selam ditumbangkan olehnya. Nautilus pun menjadi kapal selam pertama yang berhasil melintasi Kutub Utara pada tahun 1958.

Ada puncak lain yang dibuat, tapi oleh kapal selam lain bernama Triton. Tahun 1960 Triton berhasil mengarungi seluruh lautan di dunia di bawah air. Kapal ini melintasi 66.970 kilometer dan mengarunginya dalam 84 hari saja. Bukan cuma itu, pada tahun 1960 AS juga telah mulai melengkapi kapal-kapal selam mereka dengan peluru kendali (rudal) antarbenua. Rudal balistik ini bisa melewati 1.930 kilometer dan menghancurkan negara yang dituju.

Tapi bukan AS saja yang punya kapal selam nuklir. Soviet juga punya. Bahkan menurut ahli-ahli militer dunia, Soviet punya armada kapal selam yang lebih banyak. Soviet punya sekitar 350 kapal selam, dengan sekitar 60 kapal selam dipersenjatai rudal balistik. AS cuma punya 135 kapal selam dengan 40 di antaranya bersenjata rudal balistik. Mereka berdua memang tukang perang, sehingga memang harus punya peralatan perang yang banyak.

Negara-negara lain yang lebih cinta damai sudah tentu punya peralatan yang lebih sedikit. Contohnya Indonesia, yang hanya memiliki 4 buah kapal selam, 2 buatan Soviet dan 2 buatan Jerman Barat. Yang lebih awal diberi nama Pasopati dan Bramastra, sedang yang disebut terakhir Nanggala dan Cakra.

Sumber :http://www.didunia.net/2012/11/sejarah-kapal-selam-di-dunia.html

Kisah Cinta Suci


Namaku Asmidar , cewek yang tinggal di sebuah pedesaan yang hening asri . gadis yang punya pacar bernama Torus . Aku tidak pernah meragukan perasaan Torus terhadapku .Tapi itu dulu , sebelum Bonar  muncul ke Samosir . Kata Bonar , cinta baru sah jika kita telah dicium pacar kita. Di-ci-um?!Kututup mulutku yang menganga.Di-ci-um?! Astaga! Sedang kata cinta saja tidak pernah diucapkan Torus  , apalagi dicium!

Pertemuanku dengan Bonar telah membuatku guncang!
Cowok gunung yang dulu kekurangan vitamin itu, sekarang telah berubah menjadi cowok yang macho dan keren. Tiga hari yang lalu, ia datang bersama orangtuanya ke kampung ini. Hanya sekali pandang saja, aku sudah tahu bahwa semua yang melekat di tubuh Bonar adalah barang terbagus selama ini yang pernah aku lihat. Mereka datang pakai sedan bagus, yang tidak kutahu apa mereknya. Lantas, orang-orang kampung yang amat lugu super kuper  , termasuk aku dan Torus , menyambut mereka bak raja.Lalu, dengan senyumnya yang kuakui amat memikat, Bonar melemparkan puluhan coklat kepada para penyambutnya.
"Eh, kamu Torus kan?!" serunya waktu berpapasan dengan pacarku. "Yang pernah terkencing-kencing di kelas?"
"Tapi kamu lebih sering, kan?"
Keduanya terbahak-bahak.Lalu pandangan mata Bonar jatuh kepadaku.
"Hai, kamu Asmidar , kan?"
Aku mengangguk, agak kikuk.
"Astaga, kamu cantik bener sekarang.Luar biasa," ia berdecak.
"Asmidar pacarku, Bonar ."
"Ah, masak sih? Beruntung bener kamu dapat cewek secantik Asmidar."
Aku jadi merenung sepulang dari rumah Ompung Bonar .Cantik.Beruntung bener ? Kata-kata yang tidak pernah diucapkan Torus , meskipun kami pacaran sudah hampir tiga tahun.
Lalu, seminggu setelah berada di desa ini, momen manis itu pun terjadi, dan sungguh mati aku tidak sanggup melupakannya.
Waktu itu, Danau Toba sedang sepi.Aku sendirian.Susah payah aku berusaha menaikkan hudon berisi air di kepalaku.Nyatanya, aku tidak berhasil . Keseimbanganku oleng.Dan sebelum hudon jatuh hancur berkeping-keping, tangan kekar itu telah menyangga tubuhku.
Napasku mendadak sesak, karena jarak kami begitu dekat.
"Eh, kamu...," aku tergagap."Kok kamu tiba-tiba bisa berada di sini?"
"Dari tadi aku malah memperhatikan kamu."
"Dari tadi?"
"He-eh.Pas tadi aku lihat kamu bawa hudon, diam-diam aku mengikutimu dari belakang."
"Mengikuti aku ?Untuk apa?"
"Untuk apa kata kamu?" ia tertawa. "Aku pengen ngobrol-ngobrol dengan kamu, apa nggak boleh?"
Bonar mengerling nakal. Aku membuang pandang ke arah lain.
"Boleh kan, Dar ?"
Aku mengangguk.
Pelan-pelan, Danau Toba kami tinggalkan.
"Jadi bener kamu pacar Torus ?"
"Ah...."
"Beruntung bener dia dapat cewek secantik kamu.Aku jadi iri, Dar .Sungguh!"
"Ah, cewek-cewek di kota kan cantik-cantik."
"Memang.Tapi jerawatan. Nggak kayak pipi kamu yang mulus banget."
"Siapa bilang pipiku mulus.Ini, ada jerawat yang muncul."
"Mana?"
"Ini!"
"Coba aku lihat, Ah, ini mah jerawat pemanis.Bukan jerawat batu seperti jerawatnya cewek-cewek kota."
Aku bingung.Susah sekali mengelak.Bonar telah meraba jerawat di pipiku.Sekarang, tangannya bergerak menjewer hidungku.
Torus saja, yang sudah tiga tahun jadi pacarku, tidak pernah berbuat seperti itu. Bahkan berpegangan tangan saya kami tidak pernah!
"Kamu benar-benar sempurna."
"Sempurna apaan?"
"Kecantikan kamu."
Aku menggigit bibir.
"Hidung kamu memang pesek, tapi enak sekali dipandang."
Aku, benar-benar salah tingkah.
"Wajah kamu mudah sekali memerah...."
Aku diam.
"Gampang sekali salah tingkah...."
Aku tak tahu, harus bilang apa.
"Apa Torus belum pernah memberimu ciuman?"
"Ciuman?!"Aku memekik kaget.
"Kenapa respon kamu begitu luar biasa, Dar ?" ia tertawa. "Apa ciuman itu salah " ? Sekadar cium di pipi, atau di kening , apa itu dilarang? Justru aku kira, ada yang salah dalam hubunganmu dengan Torus , jika memang dia belum pernah menciummu."
Keringat banjir di keningku.Aku merasa diteror habis-habisan.
"Ciuman sayang dari sang Pacar bisa menumbuhkan rasa percaya diri, Dar !"
"Oh...."
"Kalo boleh aku menilai, dari sikap dan gaya kamu, aku yakin Torus belum pernah menciummu. Hehehe...."
Mulutku bergerak-gerak, tak mampu membela diri.
"Tanyakan padanya, Dar , kenapa ia nggak pernah menciummu!"
"Apa?!"
" Ciuman itu wujud nyata bahwa pacar kita mencintai kita, Dar !"
Aku gelagapan.
"Dan itu artinya, Torus tidak sungguh-sungguh mencintai kamu."
Aku gamang.
"Jangan khawatir, Dar .Jika Torus memang nggak mencintai kamu, masih ada aku, Bonar , yang bisa memberimu cinta dan ciuman. Hehehe...!"
Ingin sekali aku marah.Cara Bonar bicara, berani sekali dan cenderung merendahkan.Tapi aku tidak berdaya.Kata-kata Bonar benar-benar membuatku jengkel pada Torus . Betul kata Bonar , kenapa Torus tidak pernah menciumku?
Anak-anak sebayaku bermain gala di halaman rumahku, dengan bulan pernama sebagai latarnya.Torus ada duduk di sampingku.Kami lebih banyak diam. Torus terlalu sibuk dengan permainan gitarnya.Beginilah kebersamaan kami.Tidak diwarnai apa-apa kecuali berangkat dan pulang sekolah bersama, lalu siangnya sama-sama menjaga padi di sawah.
Sejak pertemuanku dengan Bonar di danau, rasanya tidurku tidak pernah lagi Bonar .Sebenarnya, aku ini pacar atau sekadar teman Torus ? Tapi....
"Anu... maukah kamu jadi pacarku?"
"Pacarmu?"
"Iya, Dar . Aku suka sekali padamu...."
"Oh...."
"Kamu mau kan, Dar ?"
"Mau...."
Pembicaraan kami tiga tahun yang lalu di suatu siang itu, bukankah itu bukti nyata bahwa aku resmi pacar Torus ? Lantas sekarang, aku harus menanyai ulang lagi ? Bahkan disertai embel-embel kenapa kamu nggak pernah menciumku? Norak sekali! Tabu sekali!
"Rus...."
"Iya!"Torus menoleh sekilas.
"Anu...."
"Pe-er Bahasa Inggrismu belum selesai?"
"Bukan itu. Anu...."
"Ada apa, sih?"
"Anu...."
Kuremas-remas tanganku.Tidak, tidak, aku tidak sanggup menanyakannya.
"Kamu aneh sekali, Dar .Dari tadi bawaanmu gelisah.Kenapa?"
"Ah, nggak. Aku cuma mau bilang...."
"Apa?"
"Aku nggak bisa ngerjain pe-er Fisika.
"Ngomong dari tadi!" suaranya ketus."Cepat bawa ke sini !
 Kamu sih, ilmu-ilmu pasti kurang kamu kuasai ! Bisanya kamu cuma ilmu-ilmu sosial.Kalo gitu terus, kamu kan bisa nggak terpakai nanti!"
Aku mendengus. Huh, cowok yang sama sekali tidak romantis!
******
Pacaran Tanpa ciuman
Bonar sudah kembali ke kota.
Antara aku dan Torus sekarang ada jarak.Aku yang sengaja menjauh darinya.Kami tidak lagi berangkat bersama ke sekolah.Pulangnya juga tidak.Bahkan menjaga padi di sawah juga aku tidak mau lagi. Aku malas bertemu Torus ! Malas!
Berminggu-minggu keadaan itu berlangsung.Tapi senja ini, tak sengaja kami bertemu di danau.Aku tidak sempat menghindar.
Ia memandangku. Sekilas, tapi tajam.
Ia datang mendekat. Aku pura-pura tak melihat.
"Aku nggak ngerti kenapa tiba-tiba kamu menjahiku, Dar...," suaranya datar, tanpa beban.
"Malas saja."
"Kamu sudah bosan bersama aku terus?"
"Ah, nggak! Lagi malas saja, kok.Lagian kerjaan di rumah sedang banyak-banyaknya."
"Kamu lain sekarang."
"Kamu juga."
"Aku juga?"
"Iya!"
"Kamu membuatku bingung," ia geleng-geleng kepala.
"Kamu apalagi!"
Ia terdiam
*****

Musim mangga telah tiba di Samosir.Aroma buah mangga menyebar di mana-mana.Masa memotong padi telah berakhir, dan sekarang penduduk konsentrasi memanen buah mangga.
Pohon-pohon mangga di halaman rumahku berbuah lebat.Buahnya harum sekali.Manis sekali.
Dan sekarang ini, aku berada di puncak pohon mangga.Merenung, sambil makan buah mangga dan menikmati keindahan Danau Toba di kejauhan.Alangkah indahnya , jika sekali-sekali aku dan Torus berkejar-kejaran di bibir Danau.Alangkah indahnya jika sekali-sekali, Torus mencubit mesra pipiku.
Kupetik beberapa buah mangga yang sudah meranum.Lalu kulemparkan ke bawah dengan jengkel.Betul kata Bonar , Torus memang tidak mencintaiku.Tiga tahun bersama-sama, sekarang semuanya harus berlalu seperti angin?
Huh! Kulemparkan satu lagi mangga ! Tidak peduli sudah matang atau belum!
Apa artinya tiga tahun bersama-sama , Torus menganggapku sekadar teman?
Huh, huh! Kulemparkan lagi mangga.Terus, dan terus.Biar semua buahnya terkuras. Aku tidak peduli! Tidak peduli!
"Dar ! Berhenti dong menjatuhkan mangganya !"
Aku hampir terpeleset.Astaga, di bawah ada Torus sedang mendongak.
"Aku boleh naik kan, Dar ?"
Aku tidak perlu mengiyakan, karena Torus sudah memanjat pohon mangga.
Jarak kami begitu dekat sekarang.
Kami berpandangan.Lama, lama sekali.
"Halo, Dar...."
"Halo juga."
"Apa kabar?"
"Baik...."
"Lama ya, kita nggak ngobrol...."
"Iya...."

"Dar...."
"Iya...."
"Sungguh, aku merasa tersiksa dengan keadaan begini.Tersiksa  sekali."
Aku mendunduk.
"Sekarang aku ingin kepastian, benarkah kamu sudah bosan pacaran dengan aku?"
Aku jadi menganga.Pacaran ? Jadi aku memang benar-benar pacarnya?
"Atau ada orang ketiga, Dar ?" suaranya bergetar.
Ragu-ragu, aku menggeleng.
"Jadi benar kamu nggak bosan padaku?"
Masih ragu-ragu, aku menggeleng.
"Juga nggak ada orang ketiga?"
"Nggak...."
"Benar?"
"Benar...."
"Jadi, kamu mau kembali padaku?"
Aku membuang pandang.
Kurasakan, tangannya mengambil daguku.Pelan, pelan sekali.Mata kami beradu.
"Dar... aku benar-benar kangen...."
Tangannya terulur, menyentuh rambutku, menyentuh mataku, menyentuh pipiku, menyentuh bibirku.
Aku seperti mimpi.
"Sungguh, Dar , aku anggak sanggup bermusuhan dengan kamu. Aku... aku kelewat sayang padamu...."
"Apa?"
"Aku cinta padamu, Dar ...."
"Apa?"
"Aku sangat, sangat, sangat cinta padamu, Dar ! Ngerti nggak?"
Airmataku merebak. Tuhan, Tuhan, Torus sudah mengucapkannya. Apalah artinya ciuman seperti yang dimaksud Bonar dibanding dengan kebersamaan kami yang begitu indah dan suci ?
cerita Pacaran tanpa ciuman

sekian cerita cinta tanpa ciuman  dari kisah-kisah semoga ada nilai pendidikannya dan manfaatnya bagi anak remaja juga saya .
lihat juga tips berpacaran

Andaikan Mama mu , Itu Mama ku

ANDAIKAN MAMAMU, ITU MAMAKU..........

Jihan dan Ningrum adalah gadis yang berusia sekitar 21 tahun. Mereka bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Mereka bekerja dari pagi pukul delapan hingga pukul tujuh malam. Mereka menempati sebuah rumah kost dan kamar yang sama. Akan tetapi Ningrum lebih dulu bekerja di kafe itu, 6 bulan yang lalu. Sementara Jihan baru bekerja selama 2 bulan. Ningrum lebih bersikap dewasa dan terkesan terlalu banyak diam. Sedangkan Jihan terkadang masih tampak sikap kemanja-manjaan. Namun, karena usia yang sebaya, mereka mudah untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri. Walau selama ini mereka hanya memperbincangkan hal-hal yang biasa saja.

Jam dinding di kamar kost menunjukkan pukul 20.30 wib. Malam itu hujan gerimis. Seperti biasa Ningrum akan segera tidur. Ketika hendak menarik selimut ia melihat Jihan masih berdiri di depan jendela, menatap gerimis. Sesekali mondar-mandir. Wajahnya jelas menggambarkan sesuatu. Ya. Suntuk.
Ningrum : “Hai Jihan ! Ada apa denganmu…? Tumben tuh mata masih melek. Mondar-mandir lagi…

Jihan : …….(Diam hanya menata Ningrum)

Ningrum : “ Malah bengong….., ada apa sih ?”

Jihan : “Aku bingung…….” (menata keluar jendela)

Ningrum : “Tentang apa..? Cowok…?”

Jihan : ………(menggeleng dan bersandar di dinding kamar)

Ningrum : “Lantas ? “

Jihan : “Mama……”

Ningrum : “ O……….”

Jihan : “ Mama menyuruhku pulang, Mama sakit.”

Ningrum : “ La kenapa bingung…? Ijin pulang donk….”

Jihan : “ Itu soal gampang. “


Ningrum : “ Susahnya….? “


Jihan : “ Aku malu pada Mama dan keluargaku…”
Ningrum : “ Mengapa…..? “
Jihan : (menatap Ningrum ) “ Aku yang membuat Mama sakit. Dua bulan ini aku kabur dari rumah. Aku tak suka Mama melarangku pacaran dengan Roy. Aku berantam sama Mama, sampai akhirnya aku di sini. Aku tak suka Mama melarangku pacaran dengan Roy. “


Ningrum : “ Siapa Roy…..? “
Jihan : “ Teman kuliahku. Dia tampan. Wah banyak sekali cewek kampus yang mengejarnya. Aku juga suka dia. Ternyata dia juga suka tuh denganku. Tapi…..(diam sejenak) “
Ningrum : “ Tapi apa ? “
Jihan : “ Dia pecandu berat. Terkadang suka ugal-ugalan. Mama tak suka aku bergaul dengan Roy, apalagi sampe pacaran. Mama takut aku ikut terjerumus bersamanya lebih dalam lagi. Entah mengapa aku tak suka Mama melarangku. Selama ini Roy baik padaku. Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus selalu diatur !. Kedua abangku boleh memilih teman yang mereka suka……mengapa aku tidak? “
Ningrum : “ Kau anak perempuan satu-satunya ? “
Jihan : “ Iya, bahkan anak bungsu “
Ningrum : “ Bagaimana teman abang-abangmu ? “
Jihan : “ Sepertinya mereka memang baik “
Ningrum : “ Ada yang seperti Roy…? “
Jihan : “ Mereka kan cewek….”
Ningrum : “ Tingkahnya maksudku….”
Jihan : ………(menggeleng)
Ningrum : “ Pantas Mamamu melarangmu. Itu karena sayang sama anaknya. “
Jihan : “ Kalau sayang mengapa halangi kebahagiaan dan kesenanganku ?! “
Ningrum : “ Justru Mamamu menunjukkan jalan bahagia untukmu ! “
Jihan : “ Ah kau sok tahu ! “
Ningrum : “ Kurasa aku tahu ! “
Jihan : “ Karena Mamamu juga sepert itu ? Dan kau menurutinya ? Agar dianggap berbakti padanya ? lalu dapat dibanggakan ? “
Ningrum : “ Tak seperti yang kau sangka ……(menunduk) Aku benci Mamaku…”
Jihan : “ Kenapa ? Karena kau selalu diatur dan dilarang kan ? Hingga kau berantam dan kabur ? “ (tersenyum sinis )
Ningrum : “ Bukan ! Karena Mamaku, bukan Mamamu…..( menatap Jihan )
seperti Mamamu. Mama adalah orang yang menghancurkan hidupku. Dia orang yang jahat

Jihan : “ Maksudmu…? (berjalan mendekati Ningrum dan duduk di penggir ranjang ) “
Ningrum : “ Ya. Mamaku bukan Mama yang peduli terhadap masa depan anaknya, membuat masa depanku berantakan ! “
Jihan : “ Ningrum……”
Ningrum : “ Ya. Karena dia kesucianku telah hilang….”
Jihan : “ Bagaimana bisa terjadi ? “
Ningrum : “ Mama selalu gonta ganti pria setelah bercerai dari ayahku sepuluh tahun yang lalu. Aku anak tunggal dari pernikahan mereka. Entah apa yang membuat mereka bercerai, sampai sekarang aku tak tahu pasti. Aku ikut dengan Mama. Setelah bercerai Mama menikah untuk yang kedua kali. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama tiga tahun. Pernikahan mereka juga kandas, papa tiriku minggat. Kau tahu penyebabnya ? (menatap Jihan ). Karena Mama ketahuan berselingkuh dengan laki-laki lain. Setelah itu Mama menikah dengan laki-laki selingkuhannya. Sebenarnya aku malu punya Mama seperti dia, tapi aku berusaha menghormatinya karena dia orang yang telah melahirkanku (diam sejenak menghela nafas…).


Ningrum : “ Tapi suatu malam, hujan deras sekali. Aku tidur di kamar Mama karena Mama sedang keluar. Tengah malam…..aku tersentak kaget. Aku merasa ada tangan yang berusaha membuka bajuku. Kau tahu Jihan siapa itu……? “
Jihan : …………..(menggeleng )
Ningrum : “ Itu Mama dan suaminya……..”
Jihan : (dengan wajah yang begitu kaget ) “ Apa….?? “
Ningrum : “ Bukan hanya malam itu Jihan, tapi malam-malam berikutnya. Mereka tak merasa iba meski aku menangis dan meronta. Mereka menjadikan aku budak nafsu mereka. Aku pernah memohon pada Mama agar membujuk suaminya untuk tidak menikmati tubuhku….
Jihan : “ Dia kabulkan….? “
Ningrum : ( dengan tatapan kosong dan tersenyum sinis, getir ) “Jangankan dikabulkan….didengarkan pun tidak. Dia bilang…’nikmati saja….nanti juga terbiasa…’. Sakit sekali hati ini. Sampai suatu ketika aku hami. Aku kira Mama akan sadar dan menghentikan kejahatannya. Tetapi sebaliknya, mereka menyuruhku menggugurkan kandungan. Bayangkan Jihan..! Mama macam apa dia…? Pantaskah aku masih menaruh hormat dan memanggilnya Mama..? “
Jihan : “ Mengapa kau tak kabur saja…? “
Ningrum : “ Aku pernah mencoba tapi gagal. Mama selalu mengancam akan membunuhku jika aku berani kabur. Setelah aku pulih dari aborsi…Mama dan suaminya mulai membawaku ke diskotik-diskotik. Mereka memaksaku minum alcohol sampai akhirnya ke tempat-tempat pelacuran. Mereka menawarkanku pada laki-laki hidung belang. Ketika itu nasibku tak ubahnya seperti jajanan ringan yang dijajakan pemiliknya di mana saja. Sampai suatu saat ketika aku sudah tak tahan, aku kabur dari kamar sebuah hotel. Ketika laki-laki buaya yang bersamaku sedang berada di kamar mandi”


Jihan : “ Mengapa tak sejak dulu…? “
Ningrum : “ Karena selama itu mereka yang datang ke rumah Mama. Rumahku laksana tempat persinggahan manusia-manusia budak nafsu. Mama seolah germoku sendiri.”
Jihan : “ Kemana kau kabur…?”
Ningrum : “ Ke tempat Tanteku , setelah selama seminggu aku menggelandang di jalanan. Aku adukan semua perbuatan Mama sampai akhirnya mereka masuk penjara tiga tahun lalu. Selama lima tahun hidupku sudah berantakan, hancur ! Apa kau kira segitu hancurnya hidupmu ketika Mamamu melarang kau pacaran dengan Roy karena takut kau terjerumus ke lembah hitam ? Tidak kan..?? “
Jihan : …………(tertunduk menatap lantai kamar lalu kembali menoleh ke arah Ningrum ) “ Cerita benarkah barusan…..? “
Ningrum : “ Kau lihat ada kebohongan di wajahku ? “
Jihan : “ Mengapa kau terlihat biasa saja….maksudku kau tampak tenang seolah tak ada cerita kelam itu….”
Ningrum : “ Lalu aku harus apa….? Meratapi hidup……? Air mataku seraya kering bertahun-tahun memelas dan memohon kebebasan dari mereka. Atau aku harus dendam ? membunuhnya ? Aku tak ingin sama dengan mereka. Aku masih punya impian hidup lebih baik lagi. Walau aku tahu sebagai wanita aku ini sudah tak berharga, seperti sampah. Tapi itu semua bukan aku yang minta. Kuyakin Tuhan tahu itu. Aku juga jarang berhubungan dengan dunia laki-laki setelah itu. Apalagi merasakan pacaran sepertimu. Aku sadar aku terlalu kotor dan tak mungkin ada yang mau padaku. Tapi bukan berarti hidupku harus berakhir. Semangat dan dukungan dari keluarga tanteku yang membuatku bertahan. Sampai akhirnya aku di sini, mencari kerja dari rekan tante. Ya. Mungkin ini hidupku yang baru. Sampai akhirnya juga aku berjumpa denganmu. (diam sejenak…..) sebenarnya aku tak ingin cerita ini padamu. Aku tak ingin orang lain tahu masa laluku. Tapi ntah mengapa ketika kau bercerita tantang Mamamu dan masalahmu…..aku seolah tepancing. Pulanglah Jihan………(memegang kedua pundak Jihan ) Jangan kau sakiti hati Mamamu. Andai, Mamamu itu Mamaku…….aku akan bersyukur. Aku akan berbakti padanya. Aku akan menyenangkan hatinya, karena dia berusaha memberi yang terbaik untuk putrinya. Sayang…………., justru itu yang tak kuperoleh dari Mamaku. “


Jihan : “ Kau ingin jadi Ibu, Ning…? “
Ningrum : “ Tentu Jihan. Kurasa tak ada wanita yang tak ingin menjadi seorang Ibu termasuk kau. Aku selalu berdoa semoga suatu saat ada seorang laki-laki yang dapat menerimaku apa adanya dan masa laluku yang kelam itu. Aku juga ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak-anakku nanti. Lupakanlah sangketa dengan Mamamu Jihan. Percayalah….dia pasti sangat menyayangimu. Kalau tidak, tak mungkin ia memintamu pulang. Lagi pula sayang kuliahmu…
Jihan : “ Ya Ningrum…..aku juga sangat menyayangi Mamaku. Besok aku akan ijin untuk pulang …

Meraka akhirnya berpelukan dan bergegas untuk tidur. Esok harinya Jihan mendapat ijin untuk cuti dua hari. Ningrum tak dapat mengantarnya ke terminal karena kafe padat pelanggan. Di parkiran kafe…
Ningrum : “ Hati-hati di jalan Han….. Salam buat Mama dan keluargamu .” (memeluk Jihan )
Jihan : “ Kau juga. Aku pasti akan memberi kabar nanti.”
Ningrum : “ Ya. Aku tunggu. “

Jihan bergegas ke jalan raya sebelumnya melambaikan tangan pada Ningrum yang menatap ke pergiannya di parkiran.
Dua minggu kemudian. Handphone Ningrum berdering….., Jihan memanggil.

Ningrum : “ Hai Jihan, apa kabar ? “
Jihan : (di sebrang….) “ Ya aku baik, kau juga kan ?”
Ningrum : “ Ya. Bagaimana Mamamu….?”
Jihan : “ Mama keadaannya semakin membaik. Maafkan aku baru memberimu kabar Ning.”
Ningrum : “ Ah tak apa. Kapan kau kembali..? ijinnya dua hari….kabarnya dua minggu….”
Jihan ; “ Ehm….Aku tak kembali Ning. Mama memintaku melanjutkan kuliah. “
Ningrum : “O…..”
Jihan : “ Tapi tiga hari lagi aku akan datang mengambil pakaianku, dan menyalammu “
Ningrum : “ Ya. Aku tunggu. Sudah ya banyak tamu datang……(melirik kea rah pelanggan yang baru datang…)”
Jihan : “ Ok. Sampai nanti “ (klik, Hp terputus )

Ningrum menatap Hp di tangannya. Entah mengapa raut wajahnya berubah. Sedih. Ya. Rasanya ia akan kahilangan teman lagi. Dan…..sepertinya rasa itu ada, iri.

di tulis oleh : Sweet Smile / Ika

Aku Mencintaimu Suamiku

AKU MENCINTAI MU SUAMI KU

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Cerita ini adalah kisah nyata… Dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.

*** Cinta itu butuh kesabaran…***

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???

Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita…

Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…

Pernikahan kami sederhana namun meriah…

Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.

Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu…

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci…

Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku…

sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.

***

Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya,

jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…

Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.

Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku.

Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka,

namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…

Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur.

Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, “lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. “

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku.

Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

Pagiitu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

Aku bertanya, “Ada apa kamu memanggilku?”

Ia berkata, “Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

Aku menjawab, “Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”

“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?”, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

“Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.

“Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan padanya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yang pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus air mata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.

Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya pada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

***

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..

Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku.

Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya dirumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yang buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

MasyaAllah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaannya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasanya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

***

Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dariatas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir ajasendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapkan segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. Aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh.. Suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah.. Suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia mengatakan “Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku.

Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. Sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

***

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yang berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir.

Tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

“Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!”.

Aku menangis.. Untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. Sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian untuk itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?”

MasyaAllah.. Kuatkan hati ini.. Aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.

Aku langsung memegang tangan suamiku.

Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

“Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku,

tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini,

aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi.

Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata,

tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

Suamiku menjawab, “Dia Desi!”

Akupun langsung menarik napas dan langsung berbicara, “Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

“Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. Air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit.. Diiringi akutnya penyakitku..

Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?”

Kuambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!”

“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya.

Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu,yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

***

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

Dilaptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku.

Aku save di My Document yang bertitle”Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a diubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, “Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus air mataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, “Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata,”Bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. Waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari.

Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, “Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. Ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, “bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang”. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

***

Setelah tiba di masjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… Aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. Hatiku menangis.

Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya.

Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. MasyaAllah.. Suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “Maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. Apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. Masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

“Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, “Bun, ayah minta maaftelah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. Ayah pernah melihat SMS bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “Seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat. Betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.”

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu.

Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***

Keesokan harinya…

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

Aku merasakan tanganku basah..

Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat..

Dan mengatakan, “Bunda, Ayah minta maaf…”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, “Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”

“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. Dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami.

Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

Semoga bermanfa'at kita ambil sebuah Hikmahnya.

Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir

sumber : Nazwa Syihab

SANG GADIS, CINTA DAN CACING

Dia seorang gadis remaja yang mulai merasakan benih-benih cinta. Cinta yang menjadikannya kenyang tanpa harus malahap nasi. Cinta yang membuatnya selalu harum mewangi walaupun mandi terkadang sehari sekali. Cinta yang membuatnya pulas walau jarang memejamkan mata. Raganya seolah terbang melambung tinggi menari-nari di angkasa luas, bertegur sapa ditemani angin mendendangkan lagu rindu untuk yang dicinta. Terkadang dia diam, lesu tak bergairah saat sang pujaan hati tiada berita. Atau terkadang karena yang dicinta membuat ulah seumpama Sinchan merepotkan mamanya.
Senyum manisnya selalu mengembang saat sang ponsel idaman mengabarkan sinyal-sinyal cinta dari sang belahan jiwa. Apapun yang sedang ia kerjakan tanpa menuggu komando semua istirahat di tempat, diam tak bergerak, sampai jari lentik sang gadis menjamahnya. O.....................tragis jika barang-barang antik itu harus merasakan sentuhan kasarnya, karena sang gadis sedang berdalih...”Aduh! tugasku belum selesai!
Bruakk bummmm....... wah berantakan! Pena, buku, semua dah bercampur di cucian piring...ckckck......ckkck.... senyum indah itu tak lagi mengembang sempurna…lebih tepatnya senyum yang tak lagi terkategorikan manis! Tapi masam! Perut yang tak pernah merasa lapar kini riuh mendendangkan syair duka cita karena si cacing menangis menagih umpan sejatinya. Ia tak lagi merasa cinta sang gadis mampu membuatnya bertahan….lemas tak berdaya. Cacing marah!benar saja! Cacing marah besar! Brukkkk! Bleep! sang gadis ambruk di depan pintu kamar mandi…dengan segenggam hanphone cintanya. Sang gadis pun dapat memejamkan mata walau sejenak……
 

Popular Posts

Cloud