Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kisah Cinta Suci


Namaku Asmidar , cewek yang tinggal di sebuah pedesaan yang hening asri . gadis yang punya pacar bernama Torus . Aku tidak pernah meragukan perasaan Torus terhadapku .Tapi itu dulu , sebelum Bonar  muncul ke Samosir . Kata Bonar , cinta baru sah jika kita telah dicium pacar kita. Di-ci-um?!Kututup mulutku yang menganga.Di-ci-um?! Astaga! Sedang kata cinta saja tidak pernah diucapkan Torus  , apalagi dicium!

Pertemuanku dengan Bonar telah membuatku guncang!
Cowok gunung yang dulu kekurangan vitamin itu, sekarang telah berubah menjadi cowok yang macho dan keren. Tiga hari yang lalu, ia datang bersama orangtuanya ke kampung ini. Hanya sekali pandang saja, aku sudah tahu bahwa semua yang melekat di tubuh Bonar adalah barang terbagus selama ini yang pernah aku lihat. Mereka datang pakai sedan bagus, yang tidak kutahu apa mereknya. Lantas, orang-orang kampung yang amat lugu super kuper  , termasuk aku dan Torus , menyambut mereka bak raja.Lalu, dengan senyumnya yang kuakui amat memikat, Bonar melemparkan puluhan coklat kepada para penyambutnya.
"Eh, kamu Torus kan?!" serunya waktu berpapasan dengan pacarku. "Yang pernah terkencing-kencing di kelas?"
"Tapi kamu lebih sering, kan?"
Keduanya terbahak-bahak.Lalu pandangan mata Bonar jatuh kepadaku.
"Hai, kamu Asmidar , kan?"
Aku mengangguk, agak kikuk.
"Astaga, kamu cantik bener sekarang.Luar biasa," ia berdecak.
"Asmidar pacarku, Bonar ."
"Ah, masak sih? Beruntung bener kamu dapat cewek secantik Asmidar."
Aku jadi merenung sepulang dari rumah Ompung Bonar .Cantik.Beruntung bener ? Kata-kata yang tidak pernah diucapkan Torus , meskipun kami pacaran sudah hampir tiga tahun.
Lalu, seminggu setelah berada di desa ini, momen manis itu pun terjadi, dan sungguh mati aku tidak sanggup melupakannya.
Waktu itu, Danau Toba sedang sepi.Aku sendirian.Susah payah aku berusaha menaikkan hudon berisi air di kepalaku.Nyatanya, aku tidak berhasil . Keseimbanganku oleng.Dan sebelum hudon jatuh hancur berkeping-keping, tangan kekar itu telah menyangga tubuhku.
Napasku mendadak sesak, karena jarak kami begitu dekat.
"Eh, kamu...," aku tergagap."Kok kamu tiba-tiba bisa berada di sini?"
"Dari tadi aku malah memperhatikan kamu."
"Dari tadi?"
"He-eh.Pas tadi aku lihat kamu bawa hudon, diam-diam aku mengikutimu dari belakang."
"Mengikuti aku ?Untuk apa?"
"Untuk apa kata kamu?" ia tertawa. "Aku pengen ngobrol-ngobrol dengan kamu, apa nggak boleh?"
Bonar mengerling nakal. Aku membuang pandang ke arah lain.
"Boleh kan, Dar ?"
Aku mengangguk.
Pelan-pelan, Danau Toba kami tinggalkan.
"Jadi bener kamu pacar Torus ?"
"Ah...."
"Beruntung bener dia dapat cewek secantik kamu.Aku jadi iri, Dar .Sungguh!"
"Ah, cewek-cewek di kota kan cantik-cantik."
"Memang.Tapi jerawatan. Nggak kayak pipi kamu yang mulus banget."
"Siapa bilang pipiku mulus.Ini, ada jerawat yang muncul."
"Mana?"
"Ini!"
"Coba aku lihat, Ah, ini mah jerawat pemanis.Bukan jerawat batu seperti jerawatnya cewek-cewek kota."
Aku bingung.Susah sekali mengelak.Bonar telah meraba jerawat di pipiku.Sekarang, tangannya bergerak menjewer hidungku.
Torus saja, yang sudah tiga tahun jadi pacarku, tidak pernah berbuat seperti itu. Bahkan berpegangan tangan saya kami tidak pernah!
"Kamu benar-benar sempurna."
"Sempurna apaan?"
"Kecantikan kamu."
Aku menggigit bibir.
"Hidung kamu memang pesek, tapi enak sekali dipandang."
Aku, benar-benar salah tingkah.
"Wajah kamu mudah sekali memerah...."
Aku diam.
"Gampang sekali salah tingkah...."
Aku tak tahu, harus bilang apa.
"Apa Torus belum pernah memberimu ciuman?"
"Ciuman?!"Aku memekik kaget.
"Kenapa respon kamu begitu luar biasa, Dar ?" ia tertawa. "Apa ciuman itu salah " ? Sekadar cium di pipi, atau di kening , apa itu dilarang? Justru aku kira, ada yang salah dalam hubunganmu dengan Torus , jika memang dia belum pernah menciummu."
Keringat banjir di keningku.Aku merasa diteror habis-habisan.
"Ciuman sayang dari sang Pacar bisa menumbuhkan rasa percaya diri, Dar !"
"Oh...."
"Kalo boleh aku menilai, dari sikap dan gaya kamu, aku yakin Torus belum pernah menciummu. Hehehe...."
Mulutku bergerak-gerak, tak mampu membela diri.
"Tanyakan padanya, Dar , kenapa ia nggak pernah menciummu!"
"Apa?!"
" Ciuman itu wujud nyata bahwa pacar kita mencintai kita, Dar !"
Aku gelagapan.
"Dan itu artinya, Torus tidak sungguh-sungguh mencintai kamu."
Aku gamang.
"Jangan khawatir, Dar .Jika Torus memang nggak mencintai kamu, masih ada aku, Bonar , yang bisa memberimu cinta dan ciuman. Hehehe...!"
Ingin sekali aku marah.Cara Bonar bicara, berani sekali dan cenderung merendahkan.Tapi aku tidak berdaya.Kata-kata Bonar benar-benar membuatku jengkel pada Torus . Betul kata Bonar , kenapa Torus tidak pernah menciumku?
Anak-anak sebayaku bermain gala di halaman rumahku, dengan bulan pernama sebagai latarnya.Torus ada duduk di sampingku.Kami lebih banyak diam. Torus terlalu sibuk dengan permainan gitarnya.Beginilah kebersamaan kami.Tidak diwarnai apa-apa kecuali berangkat dan pulang sekolah bersama, lalu siangnya sama-sama menjaga padi di sawah.
Sejak pertemuanku dengan Bonar di danau, rasanya tidurku tidak pernah lagi Bonar .Sebenarnya, aku ini pacar atau sekadar teman Torus ? Tapi....
"Anu... maukah kamu jadi pacarku?"
"Pacarmu?"
"Iya, Dar . Aku suka sekali padamu...."
"Oh...."
"Kamu mau kan, Dar ?"
"Mau...."
Pembicaraan kami tiga tahun yang lalu di suatu siang itu, bukankah itu bukti nyata bahwa aku resmi pacar Torus ? Lantas sekarang, aku harus menanyai ulang lagi ? Bahkan disertai embel-embel kenapa kamu nggak pernah menciumku? Norak sekali! Tabu sekali!
"Rus...."
"Iya!"Torus menoleh sekilas.
"Anu...."
"Pe-er Bahasa Inggrismu belum selesai?"
"Bukan itu. Anu...."
"Ada apa, sih?"
"Anu...."
Kuremas-remas tanganku.Tidak, tidak, aku tidak sanggup menanyakannya.
"Kamu aneh sekali, Dar .Dari tadi bawaanmu gelisah.Kenapa?"
"Ah, nggak. Aku cuma mau bilang...."
"Apa?"
"Aku nggak bisa ngerjain pe-er Fisika.
"Ngomong dari tadi!" suaranya ketus."Cepat bawa ke sini !
 Kamu sih, ilmu-ilmu pasti kurang kamu kuasai ! Bisanya kamu cuma ilmu-ilmu sosial.Kalo gitu terus, kamu kan bisa nggak terpakai nanti!"
Aku mendengus. Huh, cowok yang sama sekali tidak romantis!
******
Pacaran Tanpa ciuman
Bonar sudah kembali ke kota.
Antara aku dan Torus sekarang ada jarak.Aku yang sengaja menjauh darinya.Kami tidak lagi berangkat bersama ke sekolah.Pulangnya juga tidak.Bahkan menjaga padi di sawah juga aku tidak mau lagi. Aku malas bertemu Torus ! Malas!
Berminggu-minggu keadaan itu berlangsung.Tapi senja ini, tak sengaja kami bertemu di danau.Aku tidak sempat menghindar.
Ia memandangku. Sekilas, tapi tajam.
Ia datang mendekat. Aku pura-pura tak melihat.
"Aku nggak ngerti kenapa tiba-tiba kamu menjahiku, Dar...," suaranya datar, tanpa beban.
"Malas saja."
"Kamu sudah bosan bersama aku terus?"
"Ah, nggak! Lagi malas saja, kok.Lagian kerjaan di rumah sedang banyak-banyaknya."
"Kamu lain sekarang."
"Kamu juga."
"Aku juga?"
"Iya!"
"Kamu membuatku bingung," ia geleng-geleng kepala.
"Kamu apalagi!"
Ia terdiam
*****

Musim mangga telah tiba di Samosir.Aroma buah mangga menyebar di mana-mana.Masa memotong padi telah berakhir, dan sekarang penduduk konsentrasi memanen buah mangga.
Pohon-pohon mangga di halaman rumahku berbuah lebat.Buahnya harum sekali.Manis sekali.
Dan sekarang ini, aku berada di puncak pohon mangga.Merenung, sambil makan buah mangga dan menikmati keindahan Danau Toba di kejauhan.Alangkah indahnya , jika sekali-sekali aku dan Torus berkejar-kejaran di bibir Danau.Alangkah indahnya jika sekali-sekali, Torus mencubit mesra pipiku.
Kupetik beberapa buah mangga yang sudah meranum.Lalu kulemparkan ke bawah dengan jengkel.Betul kata Bonar , Torus memang tidak mencintaiku.Tiga tahun bersama-sama, sekarang semuanya harus berlalu seperti angin?
Huh! Kulemparkan satu lagi mangga ! Tidak peduli sudah matang atau belum!
Apa artinya tiga tahun bersama-sama , Torus menganggapku sekadar teman?
Huh, huh! Kulemparkan lagi mangga.Terus, dan terus.Biar semua buahnya terkuras. Aku tidak peduli! Tidak peduli!
"Dar ! Berhenti dong menjatuhkan mangganya !"
Aku hampir terpeleset.Astaga, di bawah ada Torus sedang mendongak.
"Aku boleh naik kan, Dar ?"
Aku tidak perlu mengiyakan, karena Torus sudah memanjat pohon mangga.
Jarak kami begitu dekat sekarang.
Kami berpandangan.Lama, lama sekali.
"Halo, Dar...."
"Halo juga."
"Apa kabar?"
"Baik...."
"Lama ya, kita nggak ngobrol...."
"Iya...."

"Dar...."
"Iya...."
"Sungguh, aku merasa tersiksa dengan keadaan begini.Tersiksa  sekali."
Aku mendunduk.
"Sekarang aku ingin kepastian, benarkah kamu sudah bosan pacaran dengan aku?"
Aku jadi menganga.Pacaran ? Jadi aku memang benar-benar pacarnya?
"Atau ada orang ketiga, Dar ?" suaranya bergetar.
Ragu-ragu, aku menggeleng.
"Jadi benar kamu nggak bosan padaku?"
Masih ragu-ragu, aku menggeleng.
"Juga nggak ada orang ketiga?"
"Nggak...."
"Benar?"
"Benar...."
"Jadi, kamu mau kembali padaku?"
Aku membuang pandang.
Kurasakan, tangannya mengambil daguku.Pelan, pelan sekali.Mata kami beradu.
"Dar... aku benar-benar kangen...."
Tangannya terulur, menyentuh rambutku, menyentuh mataku, menyentuh pipiku, menyentuh bibirku.
Aku seperti mimpi.
"Sungguh, Dar , aku anggak sanggup bermusuhan dengan kamu. Aku... aku kelewat sayang padamu...."
"Apa?"
"Aku cinta padamu, Dar ...."
"Apa?"
"Aku sangat, sangat, sangat cinta padamu, Dar ! Ngerti nggak?"
Airmataku merebak. Tuhan, Tuhan, Torus sudah mengucapkannya. Apalah artinya ciuman seperti yang dimaksud Bonar dibanding dengan kebersamaan kami yang begitu indah dan suci ?
cerita Pacaran tanpa ciuman

sekian cerita cinta tanpa ciuman  dari kisah-kisah semoga ada nilai pendidikannya dan manfaatnya bagi anak remaja juga saya .
lihat juga tips berpacaran

Si Kakak dan Si Adek

Fadol dan fadil adek kakak dan panggilan sehari-hari mereka adalah si adek dan si kakak , mereka anak yang cerdas meski usia si Adek dan si Kaka masih tergolong  anak-anak karena memang mereka mendapat pendidikan yang plus dari lingkungan keluarga  ,  saat  mereka melihat ada om kaya hartwan dan pelitan di desanya juga seorang  yang cuek sama istri lama sebab panya yang baru sedang  berduduk santai di  teras vilanya.
Si Adek & si Kakak  merencanakan suatu perkelahian seperti serius  didekat om  tadi ,  mereka  bertengkar serius dan hampir saling pukul . lalu om menegur mereka " kalian adek kakak bersaudara seayah dan seibu lagi ,  kenapa berantam seperti ini ? “ 
Mereka masih pura-pura berantam seolah tak menggubris kat-kata Om itu  ,
Dengan jengkelnya omongan terkaya se lurah  gak digubris , si om  mendekatn dan lebih dekat lagi  sa mbil membentak keduanya “  hei  ,..! dengari aku , kenapa kalian berantam ?? “ .
 “ Tu om si kakak gak adil mentang-mentang lebih tua seenaknya sama yang muda , ini ada sebuah mangga massa mau dimakan ludes semua ? , kakak gak adil ,  ah gak adil , inikan harusnya om dibelah dua “ .
jawab si Adek dengan pura-pura jengkel
(   “ aduh giman ini padahal saya juga gak adil hidup teh sama istri yang tua sering cuekkan “ bisiknya dalam hati ) karena  malu dan serasa makan mangga tapi kulit yang mentahnya ,,hehehehe
Langsung menyodorkan duit goceng  ( 5000 ) “  ini duit  5 ribu belikan sama mangga akan dapat  dua  “.... kata si om
“maksih om , mangganya gak jadi dimakan sebab dari pada berantam lagi mendingan  kami kasihkan saja sama temen yang suka mangga “....( adauh kena sindir lagi si kaya ) ..
“ ya sudahlah kalau begitu bubar ... bubar... jangan berantam lagi  “ susul om
Lalu , mereka bernjak bubar dan setelah jauh dari om kaya mereka  tertawa  karna serasa sukses mengkeelabuin / menyindir om kaya pelitan dan om yang gak adli terhadap istrinya.. :)

Andaikan Mama mu , Itu Mama ku

ANDAIKAN MAMAMU, ITU MAMAKU..........

Jihan dan Ningrum adalah gadis yang berusia sekitar 21 tahun. Mereka bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Mereka bekerja dari pagi pukul delapan hingga pukul tujuh malam. Mereka menempati sebuah rumah kost dan kamar yang sama. Akan tetapi Ningrum lebih dulu bekerja di kafe itu, 6 bulan yang lalu. Sementara Jihan baru bekerja selama 2 bulan. Ningrum lebih bersikap dewasa dan terkesan terlalu banyak diam. Sedangkan Jihan terkadang masih tampak sikap kemanja-manjaan. Namun, karena usia yang sebaya, mereka mudah untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri. Walau selama ini mereka hanya memperbincangkan hal-hal yang biasa saja.

Jam dinding di kamar kost menunjukkan pukul 20.30 wib. Malam itu hujan gerimis. Seperti biasa Ningrum akan segera tidur. Ketika hendak menarik selimut ia melihat Jihan masih berdiri di depan jendela, menatap gerimis. Sesekali mondar-mandir. Wajahnya jelas menggambarkan sesuatu. Ya. Suntuk.
Ningrum : “Hai Jihan ! Ada apa denganmu…? Tumben tuh mata masih melek. Mondar-mandir lagi…

Jihan : …….(Diam hanya menata Ningrum)

Ningrum : “ Malah bengong….., ada apa sih ?”

Jihan : “Aku bingung…….” (menata keluar jendela)

Ningrum : “Tentang apa..? Cowok…?”

Jihan : ………(menggeleng dan bersandar di dinding kamar)

Ningrum : “Lantas ? “

Jihan : “Mama……”

Ningrum : “ O……….”

Jihan : “ Mama menyuruhku pulang, Mama sakit.”

Ningrum : “ La kenapa bingung…? Ijin pulang donk….”

Jihan : “ Itu soal gampang. “


Ningrum : “ Susahnya….? “


Jihan : “ Aku malu pada Mama dan keluargaku…”
Ningrum : “ Mengapa…..? “
Jihan : (menatap Ningrum ) “ Aku yang membuat Mama sakit. Dua bulan ini aku kabur dari rumah. Aku tak suka Mama melarangku pacaran dengan Roy. Aku berantam sama Mama, sampai akhirnya aku di sini. Aku tak suka Mama melarangku pacaran dengan Roy. “


Ningrum : “ Siapa Roy…..? “
Jihan : “ Teman kuliahku. Dia tampan. Wah banyak sekali cewek kampus yang mengejarnya. Aku juga suka dia. Ternyata dia juga suka tuh denganku. Tapi…..(diam sejenak) “
Ningrum : “ Tapi apa ? “
Jihan : “ Dia pecandu berat. Terkadang suka ugal-ugalan. Mama tak suka aku bergaul dengan Roy, apalagi sampe pacaran. Mama takut aku ikut terjerumus bersamanya lebih dalam lagi. Entah mengapa aku tak suka Mama melarangku. Selama ini Roy baik padaku. Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus selalu diatur !. Kedua abangku boleh memilih teman yang mereka suka……mengapa aku tidak? “
Ningrum : “ Kau anak perempuan satu-satunya ? “
Jihan : “ Iya, bahkan anak bungsu “
Ningrum : “ Bagaimana teman abang-abangmu ? “
Jihan : “ Sepertinya mereka memang baik “
Ningrum : “ Ada yang seperti Roy…? “
Jihan : “ Mereka kan cewek….”
Ningrum : “ Tingkahnya maksudku….”
Jihan : ………(menggeleng)
Ningrum : “ Pantas Mamamu melarangmu. Itu karena sayang sama anaknya. “
Jihan : “ Kalau sayang mengapa halangi kebahagiaan dan kesenanganku ?! “
Ningrum : “ Justru Mamamu menunjukkan jalan bahagia untukmu ! “
Jihan : “ Ah kau sok tahu ! “
Ningrum : “ Kurasa aku tahu ! “
Jihan : “ Karena Mamamu juga sepert itu ? Dan kau menurutinya ? Agar dianggap berbakti padanya ? lalu dapat dibanggakan ? “
Ningrum : “ Tak seperti yang kau sangka ……(menunduk) Aku benci Mamaku…”
Jihan : “ Kenapa ? Karena kau selalu diatur dan dilarang kan ? Hingga kau berantam dan kabur ? “ (tersenyum sinis )
Ningrum : “ Bukan ! Karena Mamaku, bukan Mamamu…..( menatap Jihan )
seperti Mamamu. Mama adalah orang yang menghancurkan hidupku. Dia orang yang jahat

Jihan : “ Maksudmu…? (berjalan mendekati Ningrum dan duduk di penggir ranjang ) “
Ningrum : “ Ya. Mamaku bukan Mama yang peduli terhadap masa depan anaknya, membuat masa depanku berantakan ! “
Jihan : “ Ningrum……”
Ningrum : “ Ya. Karena dia kesucianku telah hilang….”
Jihan : “ Bagaimana bisa terjadi ? “
Ningrum : “ Mama selalu gonta ganti pria setelah bercerai dari ayahku sepuluh tahun yang lalu. Aku anak tunggal dari pernikahan mereka. Entah apa yang membuat mereka bercerai, sampai sekarang aku tak tahu pasti. Aku ikut dengan Mama. Setelah bercerai Mama menikah untuk yang kedua kali. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama tiga tahun. Pernikahan mereka juga kandas, papa tiriku minggat. Kau tahu penyebabnya ? (menatap Jihan ). Karena Mama ketahuan berselingkuh dengan laki-laki lain. Setelah itu Mama menikah dengan laki-laki selingkuhannya. Sebenarnya aku malu punya Mama seperti dia, tapi aku berusaha menghormatinya karena dia orang yang telah melahirkanku (diam sejenak menghela nafas…).


Ningrum : “ Tapi suatu malam, hujan deras sekali. Aku tidur di kamar Mama karena Mama sedang keluar. Tengah malam…..aku tersentak kaget. Aku merasa ada tangan yang berusaha membuka bajuku. Kau tahu Jihan siapa itu……? “
Jihan : …………..(menggeleng )
Ningrum : “ Itu Mama dan suaminya……..”
Jihan : (dengan wajah yang begitu kaget ) “ Apa….?? “
Ningrum : “ Bukan hanya malam itu Jihan, tapi malam-malam berikutnya. Mereka tak merasa iba meski aku menangis dan meronta. Mereka menjadikan aku budak nafsu mereka. Aku pernah memohon pada Mama agar membujuk suaminya untuk tidak menikmati tubuhku….
Jihan : “ Dia kabulkan….? “
Ningrum : ( dengan tatapan kosong dan tersenyum sinis, getir ) “Jangankan dikabulkan….didengarkan pun tidak. Dia bilang…’nikmati saja….nanti juga terbiasa…’. Sakit sekali hati ini. Sampai suatu ketika aku hami. Aku kira Mama akan sadar dan menghentikan kejahatannya. Tetapi sebaliknya, mereka menyuruhku menggugurkan kandungan. Bayangkan Jihan..! Mama macam apa dia…? Pantaskah aku masih menaruh hormat dan memanggilnya Mama..? “
Jihan : “ Mengapa kau tak kabur saja…? “
Ningrum : “ Aku pernah mencoba tapi gagal. Mama selalu mengancam akan membunuhku jika aku berani kabur. Setelah aku pulih dari aborsi…Mama dan suaminya mulai membawaku ke diskotik-diskotik. Mereka memaksaku minum alcohol sampai akhirnya ke tempat-tempat pelacuran. Mereka menawarkanku pada laki-laki hidung belang. Ketika itu nasibku tak ubahnya seperti jajanan ringan yang dijajakan pemiliknya di mana saja. Sampai suatu saat ketika aku sudah tak tahan, aku kabur dari kamar sebuah hotel. Ketika laki-laki buaya yang bersamaku sedang berada di kamar mandi”


Jihan : “ Mengapa tak sejak dulu…? “
Ningrum : “ Karena selama itu mereka yang datang ke rumah Mama. Rumahku laksana tempat persinggahan manusia-manusia budak nafsu. Mama seolah germoku sendiri.”
Jihan : “ Kemana kau kabur…?”
Ningrum : “ Ke tempat Tanteku , setelah selama seminggu aku menggelandang di jalanan. Aku adukan semua perbuatan Mama sampai akhirnya mereka masuk penjara tiga tahun lalu. Selama lima tahun hidupku sudah berantakan, hancur ! Apa kau kira segitu hancurnya hidupmu ketika Mamamu melarang kau pacaran dengan Roy karena takut kau terjerumus ke lembah hitam ? Tidak kan..?? “
Jihan : …………(tertunduk menatap lantai kamar lalu kembali menoleh ke arah Ningrum ) “ Cerita benarkah barusan…..? “
Ningrum : “ Kau lihat ada kebohongan di wajahku ? “
Jihan : “ Mengapa kau terlihat biasa saja….maksudku kau tampak tenang seolah tak ada cerita kelam itu….”
Ningrum : “ Lalu aku harus apa….? Meratapi hidup……? Air mataku seraya kering bertahun-tahun memelas dan memohon kebebasan dari mereka. Atau aku harus dendam ? membunuhnya ? Aku tak ingin sama dengan mereka. Aku masih punya impian hidup lebih baik lagi. Walau aku tahu sebagai wanita aku ini sudah tak berharga, seperti sampah. Tapi itu semua bukan aku yang minta. Kuyakin Tuhan tahu itu. Aku juga jarang berhubungan dengan dunia laki-laki setelah itu. Apalagi merasakan pacaran sepertimu. Aku sadar aku terlalu kotor dan tak mungkin ada yang mau padaku. Tapi bukan berarti hidupku harus berakhir. Semangat dan dukungan dari keluarga tanteku yang membuatku bertahan. Sampai akhirnya aku di sini, mencari kerja dari rekan tante. Ya. Mungkin ini hidupku yang baru. Sampai akhirnya juga aku berjumpa denganmu. (diam sejenak…..) sebenarnya aku tak ingin cerita ini padamu. Aku tak ingin orang lain tahu masa laluku. Tapi ntah mengapa ketika kau bercerita tantang Mamamu dan masalahmu…..aku seolah tepancing. Pulanglah Jihan………(memegang kedua pundak Jihan ) Jangan kau sakiti hati Mamamu. Andai, Mamamu itu Mamaku…….aku akan bersyukur. Aku akan berbakti padanya. Aku akan menyenangkan hatinya, karena dia berusaha memberi yang terbaik untuk putrinya. Sayang…………., justru itu yang tak kuperoleh dari Mamaku. “


Jihan : “ Kau ingin jadi Ibu, Ning…? “
Ningrum : “ Tentu Jihan. Kurasa tak ada wanita yang tak ingin menjadi seorang Ibu termasuk kau. Aku selalu berdoa semoga suatu saat ada seorang laki-laki yang dapat menerimaku apa adanya dan masa laluku yang kelam itu. Aku juga ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak-anakku nanti. Lupakanlah sangketa dengan Mamamu Jihan. Percayalah….dia pasti sangat menyayangimu. Kalau tidak, tak mungkin ia memintamu pulang. Lagi pula sayang kuliahmu…
Jihan : “ Ya Ningrum…..aku juga sangat menyayangi Mamaku. Besok aku akan ijin untuk pulang …

Meraka akhirnya berpelukan dan bergegas untuk tidur. Esok harinya Jihan mendapat ijin untuk cuti dua hari. Ningrum tak dapat mengantarnya ke terminal karena kafe padat pelanggan. Di parkiran kafe…
Ningrum : “ Hati-hati di jalan Han….. Salam buat Mama dan keluargamu .” (memeluk Jihan )
Jihan : “ Kau juga. Aku pasti akan memberi kabar nanti.”
Ningrum : “ Ya. Aku tunggu. “

Jihan bergegas ke jalan raya sebelumnya melambaikan tangan pada Ningrum yang menatap ke pergiannya di parkiran.
Dua minggu kemudian. Handphone Ningrum berdering….., Jihan memanggil.

Ningrum : “ Hai Jihan, apa kabar ? “
Jihan : (di sebrang….) “ Ya aku baik, kau juga kan ?”
Ningrum : “ Ya. Bagaimana Mamamu….?”
Jihan : “ Mama keadaannya semakin membaik. Maafkan aku baru memberimu kabar Ning.”
Ningrum : “ Ah tak apa. Kapan kau kembali..? ijinnya dua hari….kabarnya dua minggu….”
Jihan ; “ Ehm….Aku tak kembali Ning. Mama memintaku melanjutkan kuliah. “
Ningrum : “O…..”
Jihan : “ Tapi tiga hari lagi aku akan datang mengambil pakaianku, dan menyalammu “
Ningrum : “ Ya. Aku tunggu. Sudah ya banyak tamu datang……(melirik kea rah pelanggan yang baru datang…)”
Jihan : “ Ok. Sampai nanti “ (klik, Hp terputus )

Ningrum menatap Hp di tangannya. Entah mengapa raut wajahnya berubah. Sedih. Ya. Rasanya ia akan kahilangan teman lagi. Dan…..sepertinya rasa itu ada, iri.

di tulis oleh : Sweet Smile / Ika

SANG GADIS, CINTA DAN CACING

Dia seorang gadis remaja yang mulai merasakan benih-benih cinta. Cinta yang menjadikannya kenyang tanpa harus malahap nasi. Cinta yang membuatnya selalu harum mewangi walaupun mandi terkadang sehari sekali. Cinta yang membuatnya pulas walau jarang memejamkan mata. Raganya seolah terbang melambung tinggi menari-nari di angkasa luas, bertegur sapa ditemani angin mendendangkan lagu rindu untuk yang dicinta. Terkadang dia diam, lesu tak bergairah saat sang pujaan hati tiada berita. Atau terkadang karena yang dicinta membuat ulah seumpama Sinchan merepotkan mamanya.
Senyum manisnya selalu mengembang saat sang ponsel idaman mengabarkan sinyal-sinyal cinta dari sang belahan jiwa. Apapun yang sedang ia kerjakan tanpa menuggu komando semua istirahat di tempat, diam tak bergerak, sampai jari lentik sang gadis menjamahnya. O.....................tragis jika barang-barang antik itu harus merasakan sentuhan kasarnya, karena sang gadis sedang berdalih...”Aduh! tugasku belum selesai!
Bruakk bummmm....... wah berantakan! Pena, buku, semua dah bercampur di cucian piring...ckckck......ckkck.... senyum indah itu tak lagi mengembang sempurna…lebih tepatnya senyum yang tak lagi terkategorikan manis! Tapi masam! Perut yang tak pernah merasa lapar kini riuh mendendangkan syair duka cita karena si cacing menangis menagih umpan sejatinya. Ia tak lagi merasa cinta sang gadis mampu membuatnya bertahan….lemas tak berdaya. Cacing marah!benar saja! Cacing marah besar! Brukkkk! Bleep! sang gadis ambruk di depan pintu kamar mandi…dengan segenggam hanphone cintanya. Sang gadis pun dapat memejamkan mata walau sejenak……

Aku hanya sebuah meja makan

Kawan, hari ini aku merasa berduka. Salah jika kau anggap aku sedang putus cinta. Atau kau anggap aku kehilangan rumah. Lebih dari itu. Aku berduka karna aku tak sepertimu. Aku ingin menjerit sekeras-kerasnya meneriakkan ketidakadilan hidup. Bukan hanya karena tak ada secuil nasi ataupun setetes air yang biasanya menambah indah rupaku. Tapi kini, Kain halus berhiaskan rajutan benang emas yang elok tak lagi menyelimuti tubuhku. Rupaku begitu muram, semuram hatiku. Bahkan kini si gila itu telah mengobrak-abrik punggungku. Kepingan gelas dan piring melekat ditubuhku. Tajam! Mencabik-cabik ulu hatiku. Bukan hanya itu, Sosok kekar dan bringas itu berulangkali menghujami wajahku dengan kepalan tangannya yang kaku, meluapkan amarahnya pada Ina.......

            Ina, gadis lembut yang setiap hari merawat dan menjagaku. Lelehan merahnya cabe yang pedas dan panas...atau pekatnya kopi si Bringas, tak pernah ia ijinkan lama menyakiti tubuh mungilku. Ia tak pernah membiarkanku kedinginan karena genangan air yang tumpah. Ia selalu menyingkirkan butiran debu yang melekat dan memberikanku kesegaran. Setiap hari, aku bak bayi yang tak pernah haus kasih sayang dan  selalu menikmati sentuhan hangat ibunya.

            Tapi kali ini.....Ina tak dapat berbuat apa-apa untukku. Ia terkulai tak berdaya di sudut derita. Tatapannya begitu iba. Gerak bibir indahnya pun meneriakkan sesuatu yang tak lagi bersuara. Ohh...ingin sekali aku memeluknya. Menggenggam erat tangannya.  Memberikan kedamaian di hatinya. Mendekapnya erat dengan segenap perasaan. Tapi apa yang bisa aku lakukan?? Menggeser tubuhku pun aku tak kuasa. Meneriakkan jeritan hatikupun aku tak mampu. Aku hanya sebuah meja makan . Jangankan untuk membawanya berlari dari ruang nista ini....untuk menepiskan pisau tajam bersimbah darah ditubuhku pun aku tak mampu! Sungguh aku tak mampu!

            Oh Tuhan! Amis...! ya! bau amis itu kini mengganti semua aroma wangi yang setiap hari Ina ciptakan di sini. Sedang Si Bringas gila itu kini hanya terpaku diam mendekap tubuhku dengan erat.  Muak! Aku Muak!! Jijik!!........Aku jijikk!, harus menjadi tempat bersandar tubuh jahat yang mungkin tak punya secuilpun penyesalan. GILA!!!!!
oleh : Ika Adha
 

Popular Posts

Cloud