SALAH SANGKA

SALAH  SANGKA
                              
    Dono dan Toni adalah kakak beradik. Dono sang kakak berusia 10 tahun dan Toni, sang adik yang berusia 9 tahun. Walaupun mereka bukan anak kembar tapi wajah mereka sangatlah mirip. Mereka juga duduk di sekolah dan kelas yang sama. Keduanya duduk di kelas 5 SD. Mereka selalu bermain dan belajar bersama. Mereka juga mempunyai kegemaran yang sama. Bahkan sikap mereka yang terkadang aneh membuat mereka semakin menjadi anak yang unik. Salah satu keunikan mereka adalah mereka terlalu berhati-hati yang akhirnya membuat mereka cepat curiga pada sesuatu yang terjadi di lingkungannya maupun yang mereka alami sendiri. Mereka suka meniru gaya-gaya detektif ulung ...mungkin melebihi detektif Konan..:) yang menyelidiki suatu peristiwa. Mereka tidak dapat tidur nyenyak sebelum mengetahui apa yang mereka ingin tahu. Itulah Dono dan Toni! Yang selalu penasaran.
    Seperti yang terjadi sore ini….
    Sore ini cuaca lumayan cerah, secerah wajah dua orang pengamen yang tengah berada di depan rumah Dono dan Toni. Keduanya masih muda, berambut gondrong dan acak-acakkan. Yang seorang membawa gitar dan seorang lagi membawa kaleng kecil. Mereka menyanyikan sebuah lagu pop lama, lumayan merdulah….
    Dono dan Toni girang melihat kedatangan dua pengamen itu dan mengamatinya dari belik jendela lantai atas. Mengapa?? Karena sore ini mereka ingin membuktikan kata teman- teman di sekolah tadi, namanya Indra. Indra bilang pengamen pasti selalu punya pikiran jahat kalau melihat rumah kosong. Mendengar cerita Indra, Dono dan Toni pun menjadi khawatir dan cemas karena daerah tempat mereka tinggal memang sering didatangi pengamen. Naaah   Itulah sebabnya , sepulang sekolah tadi Dono dan Toni sengaja tidak pergi bermain. Mereka ingin menurutkan rasa penasaran di hati hingga lenyapalah rasa takut.. Dan sang pengamen yang menjadi target sudah di depan rumah mereka.
    Setelah lagu selesai, kedua pengamen itu menunggu. Namun karena tidak ada yang keluar rumah, kedua pengamen itu mau beranjak pergi. Tiba-tiba Dono berteriak memanggil pengamen itu..
    “Mas….Mas, tunggu!”
    “Ini …Mas. Ada kembaliannya, enggak?” tanya Toni sambil memberi uang sepuluh ribuan pada kedua pengamen itu.
    “Aduh..Dek.., nggak ada. Kembali berapa? kami baru aja ngamen, jadi belum dapat uang!” kata si pembawa gitar.
    “Ini ada cuma empat ribu!” sambung yang membawa kaleng setelah melihat isi kaleng.
    “Yaah…kuranglah mas. masak satu lagu tiga ribu rupiah..biasanya juga seribu!” Mestinya memang mereka memberi seikhlasnya, tapi mereka lupa menyediakan uang receh.
    “Okelah…, saya tukar dulu uang kalian. Teman saya ini biar tunggu di sini. Setuju?” tanya pengamen yang membawa gitar.
    Akhirnya mereka pun setuju. Inilah kesempatan untuk menyelidiki sambil tanya-tanya, piker Toni. Eh ternyata, sang kakak, Dono juga berfikir yang sama.
    “Mas, pekerjaannya Cuma ngamen ya? atau ada pekerjaan lain? “ tanya Doni dengan berlagak seperti pak polisi yang mengintrogasi maling sandal..
    “Maksudmu?”
    “ Kami tahu, banyak pengamen yang jadi tukang copet. Kadang di bus, kadang bisa juga di rumah-rumah. Ada juga yang menjual narkoba di jalan, atau….mata-mata perampok!” Jelas Toni dengan tegas.
    Tapi pengamen itu malah tertawa dan berkata…”Ooo..begitu, ya?
    Dono dan Toni saling berpandangan heran.
    “Kok mas malah ketawa sih?” tanya mereka serempak
    “Ya..ya ..ya kalian berdua memang pintar dan banyak curiga. Tapi ada pekerjaan yang belum kalian sebut!”
    “Pekarjaan apa?” tanya Doni
    Pengamen itu hanya tersenyum. Tak lama kemudian pengamen yang membawa gitar kembali dan menyerahkan uang kembalian delapan ribu rupiah.
    “Terimakasih ya, dik…!”
    Kedua pengamen itupun mau beranjak pergi. Saat itu sebuah mobil kijang hitam memasuki gerbang rumah di sebelah rumah Dono dan Toni. Kedua pengamen itu segera melemparkan gitar dan kaleng ke arah Dono dan Toni. Lalu mereka berlari cepat sambil menunduk rendah di belakang mobil kemudian ikut masuk gerbang.
    Tak lama kemudian terdengar suara ledakan yang disertai teriakan riuh. Beberapa menit kemudian tiga mobil polisi datang. Para polisi masuk ke gerbang rumah itu. Tak sampai setengah jam, keributan di rumah itu berhenti. Para polisi mulai meninggalkan rumah itu, dengan didahului mobil yang membawa lima tersangka. kejahatan.
    Dua pengamen yang tadi bersama mereka, menghampiri Toni dan Dono yang masih bengong dan heran di depan pagar rumah.
    “Perkenalkan, nama saya Anton dan ini Jakub. Kami polisi bagian criminal. Jadi, bukan penjahat yang jadi pengamen seperti yang kalian curgai tadi. Pengamen itu, bisa juga polisi yang sedang menyamar!” kata pak polisi sambil tersenyum.
    Dono dan Toni pun tersenyum malu. Kedua polisi itu trenyata mengintai penjahat yang tinggal di samping rumah mereka….hmm ternyata salah sangka..